SportlinkNews - Pertandingan kasta tertinggi Liga Tunisia kini tengah menjadi pusat perhatian dunia internasional. Keputusan penyelenggara untuk tetap menggelar laga di siang bolong selama bulan Ramadan memicu insiden kesehatan yang serius bagi para atlet di lapangan.
Laga yang mempertemukan CS Sfaxien melawan AS Gabes pada Minggu (1/3) di Stadion Taieb Mhiri menjadi titik puncak kontroversi ini. Duel tersebut dimainkan tepat pukul 13.00 siang waktu setempat, saat matahari berada pada titik teriknya.
Meskipun CS Sfaxien berhasil memenangkan pertandingan dengan skor tipis 1-0, hasil akhir tersebut tertutup oleh kondisi fisik para pemain. Mereka dipaksa tampil di bawah suhu panas yang menyengat sambil tetap menjalankan ibadah puasa.
Baca Juga: Conor Benn Kembali Naik Ring Melawan Mantan Juara Dunia
Situasi di lapangan digambarkan sebagai ujian fisik yang sangat berat bagi kedua tim yang bertanding. Tanpa asupan cairan dan nutrisi sejak fajar, ketahanan tubuh para pemain mencapai batas maksimalnya sebelum laga usai.
Melansir media Turki, Haberler, pemandangan memprihatinkan terlihat segera setelah wasit meniup peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan. Para pemain dari CS Sfaxien maupun AS Gabes dilaporkan langsung tumbang di atas rumput stadion.
Laporan tersebut menyebutkan beberapa pemain bahkan jatuh pingsan di lokasi. Kondisi ini diduga kuat terjadi akibat kombinasi kelelahan hebat, sengatan panas, serta dehidrasi akut yang dialami selama 90 menit bertanding.
Baca Juga: Hindari Sanksi Bojan Hodak Enggan Bicara Soal Pertandingan Persib vs Persebaya
Tim medis yang berjaga segera memasuki area lapangan untuk memberikan pertolongan darurat. Mereka harus bergerak cepat memeriksa satu per satu pemain yang terkapar guna memastikan tidak ada kondisi yang berakibat fatal.
Dokumentasi berupa foto-foto para pemain yang bertumbangan tak lama kemudian viral di berbagai platform media sosial. Unggahan tersebut memicu gelombang keprihatinan sekaligus kritik tajam dari warganet dan pengamat sepak bola global.
Banyak pihak mengecam keras kebijakan penyelenggara liga karena memaksakan jadwal pertandingan di siang hari selama Ramadan. Jadwal tersebut dinilai sangat menyulitkan dan membahayakan keselamatan para pemain yang sedang berpuasa.
Baca Juga: Kekalahan Beruntun Tak Goyahkan Ambisi Real Madrid
Sebagai solusi, berbagai pihak menyarankan agar otoritas liga segera mengubah jadwal pertandingan ke malam hari setelah waktu berbuka. Langkah ini dianggap lebih manusiawi dan mendukung performa atlet agar tetap kompetitif secara sehat.
Beberapa negara dengan mayoritas penduduk Muslim, seperti Indonesia, telah lama menerapkan kebijakan menggeser jadwal liga ke malam hari selama bulan suci. Namun hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari otoritas Liga Tunisia terkait desakan perubahan jadwal tersebut.
Artikel Terkait
Puasa Ramadan: Durasi Latihan Dipertahankan, Daya Tahan Berkurang tapi Mental Meningkat
Pep Guardiola Tidak Ambil Pusing dengan Pemainnya yang Menjalani Ibadah Puasa Ramadan
Old Trafford Gelar Buka Puasa Ramadan Bersama Suporter Muslim
Pep Guardiola Kecam Sorakan Fans Leeds di Momen Buka Puasa Pemain Manchester City
Legenda Manchester United Patrice Evra Bagikan Refleksi Puasa Ramadan