SportlinkNews - Bulan Ramadan menghadirkan tantangan tersendiri bagi atlet Muslim yang tetap menjalani program latihan dan kompetisi.
Sebuah survei internasional terhadap 105 atlet Muslim dari 10 negara mengungkap bagaimana mereka menyesuaikan latihan dan pola tidur selama menjalankan ibadah puasa.
Responden berusia 18 hingga 47 tahun, dengan 63 persen di antaranya laki-laki. Mereka berasal dari berbagai cabang olahraga, mulai dari nomor keterampilan, kekuatan, bela diri, daya tahan, hingga cabang campuran.
Baca Juga: Souza: Tak Bisa Kontrol Persib, Persija Fokus Raih Poin Demi Poin
Sebagian di antaranya berlevel dunia (15 persen) dan internasional (39 persen), dengan mayoritas berbasis di Asia.
Hasil survei menunjukkan 76 persen atlet menjalani puasa penuh selama Ramadan. Pekan pertama disebut sebagai fase paling berat dalam beradaptasi dengan ritme latihan (64 persen), disusul pekan keempat (16 persen) dan ketiga (10 persen).
Dari sisi persepsi fisik, cukup banyak atlet meyakini puasa berdampak pada performa. Sebanyak 44 persen percaya kekuatan dan daya ledak menurun, sementara 35 persen merasakan penurunan daya tahan.
Baca Juga: Dominan dan Tenang, Amallia/Fadia Amankan 16 Besar German Open 2026
Di sisi lain, 71 persen menyebut lemak tubuh berkurang dan 74 persen melaporkan penurunan berat badan. Menariknya, hampir separuh responden (44 persen) menilai keterampilan teknis olahraga mereka tidak terdampak signifikan.
Faktor utama yang diyakini memengaruhi performa adalah keterbatasan asupan cairan (82 persen), makanan (56 persen), serta gangguan tidur (51 persen).
Temuan ini diperkuat oleh data Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), yang menunjukkan 78 persen atlet memiliki skor ≥5,0—indikator kualitas tidur yang kurang baik selama Ramadan.
Baca Juga: Kemenpora Godok Skema Dana Pensiun Atlet, Erick Bentuk Tim Pakar
Meski demikian, ada sisi positif yang mengemuka. Sebanyak 65 persen atlet merasa lebih kuat secara mental, 54 persen lebih stabil secara emosional, dan 44 persen mengaku lebih termotivasi selama berpuasa.
Artinya, tantangan fisik justru diimbangi dengan peningkatan aspek psikologis.
Dalam praktiknya, sebagian besar atlet tetap mempertahankan durasi latihan hingga tiga jam, baik sebelum (86 persen) maupun selama Ramadan (82 persen). Frekuensi latihan 4-7 sesi per pekan juga relatif stabil.
Baca Juga: Langkah Strategis 4 Federasi Pordasi: Perkuat Konsolidasi dan Jadwal Kejuaraan Nasional 2026
Soal intensitas, 38 persen memilih mempertahankan beban latihan, sementara 39 persen menurunkannya hingga 40 persen.
Penyesuaian juga terlihat pada jenis latihan. Elemen seperti pemanasan, latihan plyometric, kecepatan, kelincahan, dan keterampilan teknis cenderung dipertahankan.
Namun, latihan dengan tuntutan daya tahan tinggi dan intensitas berat lebih banyak dikurangi. Beberapa atlet memindahkan sesi berat ke malam hari (22 persen) atau menyelesaikannya menjelang waktu berbuka (24 persen).
Baca Juga: Program Unggulan Kemenpora 2026, dari Youth Camp hingga Dana Pensiun
Secara keseluruhan, survei ini menegaskan bahwa mayoritas atlet Muslim tetap berpuasa penuh sembari menjalani program latihan. Tantangan terbesar muncul pada fase awal Ramadan, terutama terkait adaptasi fisik dan kualitas tidur.
Namun, peningkatan kekuatan mental dan emosional menjadi modal penting yang membantu mereka menjaga konsistensi performa sepanjang bulan suci.
Artikel Terkait
Manajemen Nutrisi Jadi Kunci Performa Pemain Bola Selama Ramadan
Ramadan Jadi Sumber Kekuatan, Ajaraie Langsung Pecah Telur Bersama Persija
Revolusi Sport Science: AI Prediksi Kelelahan Pemain Muslim di Bulan Ramadan
Menemukan Waktu Tepat Berolahraga Saat Puasa Ramadan
Sambut Ramadan, Arsenal Gelar Lokakarya Bersama Komunitas dan Mesjid Finsbury Park