Pemain sepak bola Zahra Azadpour, 27 tahun, termasuk di antara mereka yang dibantai oleh Garda Revolusi Iran yang haus darah.
Bintang tersebut bermain untuk tim Liga Wanita Iran Mehregan Pardis dan telah bergabung dengan kamp pelatihan tim nasional.
Demonstrasi tersebut memicu kemarahan Donald Trump terhadap rezim tersebut, yang kini telah berubah menjadi konflik besar di Timur Tengah.
Baca Juga: Tanpa Hilgers dan Struick, Pengamat Nilai Daftar Pemain Timnas Indonesia Tetap Objektif
Perempuan di Iran telah menghadapi pembalasan mematikan di masa lalu karena protes mereka.
Kematian Mahsa Amini menjerumuskan Republik Islam ke dalam aib setelah gadis muda itu diduga dipukuli, ditangkap, dan dibiarkan koma oleh polisi moral rezim.
Dia dilaporkan diserang karena tidak mengikuti hukum hijab yang ketat di negara itu.
Artikel Terkait
Main Lebih Awal di Swiss Open 2026, Sektor Ganda Indonesia Fokus Maintain Power
Jake Paul Kagetkan Tunangannya dengan Bentley G Wagon
Xavi Ungkap Laporta Akan Tendang Messi Jika Kembali ke Barcelona
Pertandingan Paling Brutal dalam Sejarah Sepak Bola Brasil, Semua Pemain Berkelahi, Wasit Keluarkan 23 Kartu Merah
Jelinya Pemain Persib Memanfaatkan Peluang di Lini Pertahanan Persik Kediri