SportlinkNews - Pertandingan sengit bertempo tinggi antara Portugal dan Kolombia di Stadion Miami berakhir tanpa gol dengan skor kacamata pada laga pemungkas Grup K Piala Dunia 2026, Minggu (28/6) dini hari WIB. Hasil imbang tersebut sudah cukup untuk meloloskan kedua negara ke babak 32 besar, dengan Kolombia keluar sebagai juara grup sedangkan Portugal menempati posisi runner-up.
Keputusan pelatih Portugal, Roberto Martinez, yang tetap memaksakan Cristiano Ronaldo bermain penuh selama 90 menit kembali memicu perdebatan sengit di kalangan pengamat sepak bola. Kebijakan tersebut dinilai sangat kontras dibandingkan dengan langkah tim besar lain yang memilih mengistirahatkan pemain bintangnya seperti Lionel Messi dan Erling Haaland demi menjaga kebugaran di fase gugur.
Kritik tajam terus mengalir karena penyerang legendaris berusia 41 tahun tersebut dianggap mulai kedodoran, terutama saat skuad Selecao das Quinas kehilangan penguasaan bola di area pertahanan lawan. Kendati demikian, Martinez langsung pasang badan dan menegaskan seluruh keputusan taktis tim diambil berdasarkan pertimbangan data internal yang objektif.
"Kami tidak membandingkan pemain kami dengan pemain tim lain untuk mengambil keputusan. Itu akan sangat kekanak-kanakan dan tidak profesional," kata Martinez dikutip dari Reuters.
Juru taktik asal Spanyol tersebut menjelaskan kecerdasan posisi serta ketangguhan psikologis yang dimiliki megabintang Al-Nassr itu jauh lebih krusial dibandingkan aspek mobilitas fisik semata. Ia juga mengisyaratkan adanya potensi rotasi pemain pada laga berikutnya, namun kebijakan tersebut berlaku adil untuk seluruh nama yang berada di dalam skuadnya.
"Cristiano terbiasa berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat. Ini lebih soal tetap kuat secara mental dan disiplin dengan posisinya. Tidak ada masalah, baik secara fisik maupun mental, bagi Cristiano untuk bermain 90 menit hari ini," ucapnya.
Baca Juga: Piala Dunia 2026: Ketika Tiga Menit Jeda Minum Air Menuai Kritik
"Mungkin di pertandingan berikutnya kami perlu melakukan perubahan, tetapi itu sama seperti pemain lainnya," ia melanjutkan.
Di atas lapangan, performa Portugal sebenarnya sempat membaik setelah jeda jea minum babak pertama lewat peluang emas yang didapatkan oleh Bruno Fernandes dan Joao Felix. Namun, ketangguhan kiper Kolombia, Camilo Vargas, berhasil mementahkan seluruh gelombang serangan hingga Martinez mengakui timnya gagal mendikte jalannya laga sesuai rencana awal.
"Kami memberikan Kolombia pertandingan yang mereka inginkan. Laga ini terlalu terbuka, mungkin lebih terbuka daripada yang kami inginkan," ucapnya.
Baca Juga: Final IBL 2026 Berakhir di Gim 5, Format Baru Dinilai Tingkatkan Daya Saing
Langkah Portugal di babak 32 besar dipastikan makin berat karena dijadwalkan bersua tim tangguh Kroasia. Pertandingan krusial ini juga dipastikan kental dengan atmosfer emosional karena bertepatan dengan momen peringatan wafatnya mantan penyerang Portugal, Diogo Jota.
"Setiap hari selalu sulit. Saat berlatih selalu ada momen ketika Diogo Jota kembali dalam ingatan kami," ujar Martinez dengan nada haru.
Artikel Terkait
Portugal Sengaja Tak Menang, Ronaldo Ingin Bertemu Messi di Final
Tiga Laga Tanpa Kebobolan, Unai Simon Pecahkan Rekor Istimewa Spanyol
Selesai Masa Berkabung, Didier Deschamps Kembali Pimpin Skuad Prancis
Jadi Korban Tekel Keras Gelandang Uruguay, Nico Williams Kecewa Berat