Meski banyak pemainnya merumput di Belanda, mereka memiliki garis keturunan dari pulau di Karibia selatan tersebut sehingga Curacao berkembang pesat menjadi kekuatan baru di wilayah CONCACAF. Langkah awal kebangkitan mereka ditandai saat memenangkan pertandingan kualifikasi dua leg pertama Piala Dunia melawan Montserrat pada 2015.
Baca Juga: Kiko Carneiro Mudik Demi Pemulihan Cederanya, Bertekad Kembali untuk Bawa Persik Lebih Kuat
Dua tahun kemudian, tim ini berhasil lolos ke Piala Emas CONCACAF untuk pertama kalinya meskipun harus langsung tersingkir di babak penyisihan grup setelah menelan kekalahan di semua laga. Namun pada 2019, Curacao bangkit dengan gaya yang memukau setelah sukses mencapai perempat final sebelum akhirnya dihentikan oleh sang runner-up turnamen, Amerika Serikat.
Curacao sebenarnya juga nyaris lolos ke Piala Dunia 2022 di Qatar. Sayang, langkah mereka kala itu harus terhenti setelah disingkirkan oleh Panama pada putaran kedua terakhir kualifikasi.
Drama Kursi Kepelatihan
Pelatih veteran asal Belanda, Dick Advocaat, menjadi sosok penting yang memimpin Curacao lolos ke Piala Dunia pertama mereka. Ia bahkan menyebut pencapaian fenomenal ini sebagai hal paling gila yang pernah diraihnya selama hampir empat dekade berkarier sebagai manajer sepak bola.
Baca Juga: Persis Solo Turun Kasta Dimitri Lima Mengaku Sedih dan Kecewa
Namun, sebuah kabar mengejutkan datang empat bulan sebelum turnamen dimulai ketika Advocaat memilih mundur dari jabatannya karena kondisi kesehatan putrinya yang memburuk. Rekan senegaranya, Fred Rutten, yang pernah menangani klub-klub elite Eropa seperti Feyenoord, PSV Eindhoven, dan Schalke 04, kemudian ditunjuk sebagai pengganti untuk memimpin Curacao di Piala Dunia 2026.
Kendati demikian, drama penunjukan pelatih ini ternyata belum berakhir. Tepat pada 11 Mei atau sebulan sebelum turnamen bergulir, Rutten memutuskan mundur demi menjaga kondusivitas skuad menyusul desakan dari para pemain dan sponsor yang menginginkan Advocaat kembali.
Sehari berselang, pelatih berusia 78 tahun tersebut resmi ditunjuk kembali setelah kondisi medis putrinya menunjukkan perkembangan yang membaik. Kembalinya Advocaat ke kursi kepelatihan ini sekaligus memecahkan rekor sebagai manajer tertua dalam sejarah pelaksanaan Piala Dunia.
Baca Juga: Porlasi Perkuat Tata Kelola Organisasi untuk Cetak Prestasi Layar Indonesia
Para Pemain Kunci
Penyerang Gervane Kastaneer menjadi pencetak gol terbanyak bagi Curacao selama babak kualifikasi dengan koleksi lima gol dari enam pertandingan. Kontribusi besarnya tersebut termasuk torehan hat-trick yang mengesankan saat menghadapi Saint Lucia.
Striker utama Rangelo Janga, yang merupakan pencetak gol terbanyak sepanjang masa Curacao dengan 21 gol, juga sukses mengemas hat-trick ke gawang Barbados. Sementara itu, Juninho Bacuna dan Kenji Gorre masing-masing menyumbangkan tiga gol sepanjang fase kualifikasi tersebut.
Di sektor lain, Livano Comenencia yang merupakan bek kanan berusia 22 tahun juga menjadi talenta yang sangat menjanjikan di dalam skuad. Selain itu, lini tengah mereka akan dikomandoi oleh Tahith Chong, pemain berusia 26 tahun alumnus akademi Manchester United.
Baca Juga: Aturan Baru Piala Dunia 2026 Menimbulkan Masalah, Pemain Harus Perhatikan Ini
Hubungan Kental dengan Sepak Bola Belanda
Mayoritas pemain di dalam skuad Curacao saat ini lahir dan besar di Belanda. Namun, mereka memiliki ikatan keluarga yang kuat sehingga memenuhi syarat secara regulasi untuk membela tim nasional Curacao.