internasional

Grup J Piala Dunia 2026: Aljazair Kembali ke Piala Dunia, Generasi Mahrez Bidik Sejarah Baru

Minggu, 7 Juni 2026 | 06:05 WIB
Algeria kembali tampil di Piala Dunia 2026 setelah penantian 12 tahun. Generasi Emas mereka bidik sejarah baru.

Mereka datang dengan harapan, tekanan, dan keyakinan bahwa generasi ini mampu mengembalikan Desert Foxes ke jajaran elite sepak bola dunia.

Gaya Bermain Algeria

Salah satu kekuatan utama Aljazair pada Piala Dunia 2026 terletak pada pendekatan taktik yang diterapkan pelatih Vladimir Petkovic.

Juru taktik asal Bosnia tersebut berhasil membentuk Desert Foxes menjadi tim yang tidak hanya mengandalkan kualitas individu, tetapi juga memiliki organisasi permainan yang solid dan disiplin.

Di bawah arahan Petkovic, Aljazair mengandalkan kombinasi transisi cepat, penguasaan bola yang terstruktur, serta fleksibilitas taktik yang memungkinkan mereka berganti formasi dari 4-3-3 menjadi 5-3-3 sesuai kebutuhan pertandingan.

Baca Juga: Semifinal IBL 2026: Luka Lama Belum Terbalas, Dewa United Curi Kemenangan di Kandang Pelita Jaya

Pendekatan tersebut terbukti efektif setelah Aljazair meraih kemenangan 1-0 atas Belanda dalam laga pemanasan menjelang Piala Dunia 2026.

Transisi menyerang menjadi senjata utama Desert Foxes. Ketika berhasil merebut bola di lini tengah, para pemain Aljazair mampu mengubah situasi bertahan menjadi menyerang dalam waktu singkat.

Kecepatan para pemain sayap dan kreativitas lini tengah memungkinkan mereka membongkar pertahanan lawan melalui serangan-serangan vertikal yang langsung mengarah ke area berbahaya.

Meski dikenal berbahaya dalam serangan balik, Aljazair tidak sepenuhnya bergantung pada skema tersebut. Petkovic juga membangun tim yang mampu mengontrol jalannya pertandingan melalui penguasaan bola.

Baca Juga: Skuad Portugal Diminta Jaga Kerendahan Hati sebagai Jalan Menuju Kejayaan Dunia

Mereka berani memulai serangan dari lini belakang, menjaga sirkulasi bola, serta memanfaatkan kreativitas para gelandang untuk mengatur tempo permainan dan menciptakan ruang di pertahanan lawan.

Keseimbangan antara menyerang dan bertahan menjadi ciri khas Aljazair saat ini.

Menghadapi lawan-lawan kuat di Grup J, terutama juara bertahan Argentina, Desert Foxes diperkirakan akan mengandalkan pertahanan blok rendah hingga menengah yang disiplin.

Dalam situasi tertentu, Petkovic juga tidak ragu menambah jumlah pemain belakang dengan menerapkan formasi lima bek guna meredam tekanan lawan.

Baca Juga: Semifinal IBL 2026: Satria Muda Kena Alarm Semifinal, Djordje Soroti Permainan Terlalu Lunak.

Pemain yang Patut Diperhatikan

Riyad Mahrez: Kapten sekaligus ikon sepak bola Aljazair masih menjadi pusat permainan Desert Foxes. Meski telah berusia 35 tahun, Mahrez tetap menjadi sumber kreativitas utama di lini serang.

Pemain yang telah mencatat lebih dari 110 penampilan dan 38 gol untuk tim nasional itu diperkirakan menjalani Piala Dunia terakhir dalam kariernya.

Kemampuan menggiring bola, duel satu lawan satu, serta tendangan kaki kiri yang mematikan membuat Mahrez tetap menjadi ancaman bagi pertahanan lawan.

Mohamed Amoura: Amoura datang ke Piala Dunia 2026 dengan status sebagai salah satu pemain paling berbahaya dalam skuad Aljazair. Penyerang Wolfsburg tersebut tampil tajam sepanjang kualifikasi zona Afrika dengan mencetak 10 gol.

Baca Juga: Nostalgia Kejayaan Piala Dunia 2002, Hong Myung-bo Kenang Momen Satukan Bangsa di Tengah Krisis

Kecepatan, agresivitas, dan kemampuan memanfaatkan ruang membuatnya menjadi senjata utama Desert Foxes dalam skema serangan balik cepat.

Aissa Mandi: Bek senior berusia 34 tahun ini menjadi sosok pemimpin di lini belakang Aljazair. Mandi merupakan salah satu pemain yang masih tersisa dari skuad Piala Dunia 2014.

Pengalamannya menghadapi pertandingan besar menjadi aset penting bagi tim yang berambisi melangkah jauh di Amerika Utara.

Amine Gouiri: Penyerang serbabisa ini menawarkan fleksibilitas bagi lini depan Aljazair. Gouiri mampu bermain sebagai penyerang tengah maupun penyerang sayap.

Halaman:

Tags

Terkini