SportlinkNews - Penantian panjang 28 tahun akhirnya terwujud, Das Team memastikan tiket ke Piala Dunia 2026 dan datang ke Amerika Utara bukan sekadar sebagai peserta, melainkan sebagai salah satu kuda hitam paling menarik dari Eropa.
Kembalinya Austria mendapat sorotan besar setelah penampilan impresif mereka di Euro 2024.
Meski langkah mereka terhenti lebih cepat dari yang diharapkan, gaya bermain agresif dan modern yang diterapkan pelatih Ralf Rangnick membuat mereka menjadi salah satu tim paling menghibur di turnamen tersebut.
Kini, empat tahun setelah memulai proyek transformasinya bersama tim nasional Austria, Rangnick membawa tim yang semakin matang.
Pria yang dikenal sebagai salah satu pemikir paling progresif dalam sepak bola modern itu berhasil menanamkan filosofi gegenpressing yang menjadi identitas utama Das Team.
Bahkan ketika Bayern Munchen sempat menawarkan posisi pelatih kepala pada 2024, Rangnick memilih bertahan bersama Austria. Keputusan tersebut menjadi bukti keyakinannya terhadap potensi generasi pemain yang dimiliki saat ini.
Austria memastikan lolos ke Piala Dunia 2026 dengan menjadi juara Grup H kualifikasi UEFA. Mereka mencatat enam kemenangan, satu hasil imbang, dan satu kekalahan untuk finis di atas Bosnia-Herzegovina dan Rumania.
Perjalanan menuju Amerika Utara diwarnai sejumlah hasil impresif. Salah satunya adalah kemenangan telak 10-0 atas San Marino yang menjadi kemenangan terbesar dalam sejarah tim nasional Austria.
Baca Juga: Gagalkan Eksekusi Penalti Oman, Emil Audero Puji Respons Cepat Elkan Baggott
Marko Arnautovic tampil sebagai bintang dengan mencetak empat gol dalam pertandingan tersebut.
Momentum positif juga berlanjut dalam laga-laga persahabatan. Austria mengalahkan Jerman 2-0 dan menghancurkan Ghana 5-1, hasil yang semakin memperkuat reputasi mereka sebagai salah satu tim yang sedang naik daun di Eropa.
Di bawah Rangnick, Austria menjadi salah satu tim dengan pressing paling agresif di benua tersebut.
Statistik menunjukkan mereka memiliki angka PPDA terendah selama babak kualifikasi, yang berarti lawan diberi sangat sedikit waktu untuk menguasai bola sebelum mendapat tekanan.
Baca Juga: John Herdman Puji Debut Bersejarah Mathew Baker di Timnas Indonesia
Filosofi ini membuat Austria tampil dengan intensitas tinggi sepanjang pertandingan.
Meski demikian, kekuatan Austria tidak hanya berasal dari sistem permainan. Mereka juga memiliki kombinasi ideal antara pemain berpengalaman dan generasi muda berbakat.
Nama-nama seperti David Alaba, Marko Arnautovic, Konrad Laimer, Marcel Sabitzer, Christoph Baumgartner, hingga Michael Gregoritsch menjadi fondasi utama tim.
Pengalaman mereka di level tertinggi Eropa diharapkan mampu membimbing generasi baru Austria yang mulai menunjukkan potensinya.
Baca Juga: Tampil Impresif Sepanjang Musim, Cahya Supriadi Bertahan di PSIM Jogja
Sorotan utama tertuju kepada David Alaba. Bek berusia 33 tahun itu menjadikan Piala Dunia 2026 sebagai kesempatan untuk kembali menunjukkan kualitasnya di panggung internasional setelah berpisah dengan Real Madrid.
Kehadirannya akan menjadi faktor penting dalam upaya Austria mencatat prestasi terbaik di era modern.
Austria memiliki sejarah panjang di Piala Dunia dengan tujuh penampilan sebelumnya.
Prestasi terbaik mereka terjadi pada 1954 ketika berhasil finis di posisi ketiga. Namun sejak tampil terakhir pada 1998, Das Team harus menunggu hampir tiga dekade untuk kembali ke turnamen terbesar sepak bola dunia.
Baca Juga: Bursa Transfer Liga Primer Dibuka 15 Juni, Beberapa Klub Curi Start
Pada Piala Dunia 2026, Austria tergabung di Grup J bersama Argentina, Aljazair, dan Yordania. Persaingan dipastikan tidak mudah, terutama dengan hadirnya juara bertahan Argentina.
Namun, organisasi permainan yang solid, pressing agresif, dan kedalaman skuad membuat Austria diyakini memiliki peluang besar untuk bersaing memperebutkan tiket ke fase gugur.
Gaya Bermain Austria
Di bawah arahan Ralf Rangnick, Austria mengandalkan filosofi gegenpressing yang menuntut tekanan agresif sejak di area pertahanan lawan. Tujuannya adalah memaksa lawan melakukan kesalahan dan merebut kembali bola secepat mungkin.
Formasi Utama 4-2-3-1: Austria umumnya bermain dengan formasi ini. Namun, skema ini cukup fleksibel dan dapat berubah menjadi lebih menyerang atau lebih defensif sesuai kebutuhan pertandingan.
Baca Juga: FIFA Akhirnya Izinkan Penonton Bawa Botol Plastik di Piala Dunia 2026