SportlinkNews - Kompetisi Liga Primer Inggris musim 2025/26 yang memasuki pekan ke-37 bakal menyajikan duel bertajuk Derbi London yang mempertemukan Chelsea kontra Tottenham Hotspur. Pertandingan krusial ini diprediksi berlangsung dengan tensi tinggi karena melibatkan pertaruhan reputasi serta ambisi besar dari kedua belah pihak.
Laga yang akan digelar di Stadion Stamford Bridge pada Rabu (19/5) dini hari WIB tersebut bukan sekadar panggung adu gengsi sesama tim ibu kota. Lebih dari itu, bentrokan ini menjadi sangat krusial lantaran kedua kubu membawa misi dan motivasi yang bertolak belakang di penghujung musim.
Bertindak sebagai tuan rumah, Chelsea memegang catatan sejarah yang sangat superior atas sang rival sekota saat bermain di hadapan publik sendiri. Dalam 35 pertemuan terakhir di kompetisi domestik, Tottenham tercatat hanya mampu mencuri satu kemenangan, sementara sisa laga berakhir dengan 11 hasil imbang dan 23 kekalahan.
Baca Juga: Witan Sulaeman Kembali Dipanggil Timnas untuk Ajang AFF 2026
Skuad The Blues saat ini tengah berjuang keras untuk mengamankan satu tiket menuju kompetisi zona Eropa musim depan, khususnya UEFA Conference League. Peluang tersebut masih terbuka sangat lebar mengingat selisih poin yang sangat tipis dengan rival terdekat mereka, Brentford, di papan klasemen.
Di sudut lain, laga tandang kali ini dipastikan menjadi duel hidup mati bagi Tottenham Hotspur demi mempertahankan eksistensi mereka di kasta tertinggi. The Lilywhites datang dengan beban berat karena posisinya masih belum aman dari ancaman turun kasta.
Kemenangan di markas Chelsea akan langsung mengunci posisi Tottenham dari zona merah karena saat ini mereka hanya unggul dua poin dari West Ham United di peringkat ke-18. Sebaliknya, jika menelan kekalahan, perjuangan mereka untuk lolos dari jerat degradasi dipastikan harus berlanjut hingga pertandingan pemungkas.
Baca Juga: Penantian Panjang Made Tito Pecah di Laga Kontra Bhayangkara FC
Atmosfer panas pertandingan ini juga membangkitkan memori publik terhadap insiden legendaris 'Battle of Bridge' yang terjadi tepat satu dekade silam. Pada momen historis tersebut, kedua tim memperagakan permainan yang sangat agresif hingga laga berakhir dengan skor imbang 2-2.
Menghadapi situasi genting ini, manajer Tottenham Roberto De Zerbi mengaku memiliki formula khusus untuk membakar semangat juang anak-anak asuhnya. Juru taktik asal Italia tersebut memilih untuk mengonversi tekanan publik menjadi energi positif dan mengajak pemainnya memvisualisasikan kemenangan di Stamford Bridge.
"Kebanggaan adalah motivasi yang luar biasa," kata De Zerbi dikutip dari Dailymail. Pernyataan tersebut dilontarkan untuk menggugah mentalitas para pemainnya agar tidak gentar menghadapi atmosfer intimidatif di markas lawan.
Baca Juga: Putaran 2 Kejurnas Drag Race 2026 Digelar di Makassar, 326 Starter Siap Adu Cepat
De Zerbi juga menilai sentimen negatif dari publik yang mengharapkan timnya turun kasta justru harus dijadikan bahan bakar utama untuk bangkit. "Jika semua orang menginginkan Tottenham terdegradasi, saya pikir bagi pemain Tottenham, penggemar Tottenham, dan semua orang yang bekerja di dalam Tottenham, itu pasti menjadi motivasi terbesar."
Mantan pelatih Brighton ini kemudian merefleksikan pengalamannya di negara asal untuk menggambarkan bahwa tekanan suporter adalah hal yang lumrah dalam sepak bola modern. "Saya orang Italia dan di Italia, sama saja. Bagi tim-tim besar, sama saja."
Artikel Terkait
Chelsea Butuh Keajaiban untuk Tumbangkan Manchester City
Chelsea Tatap Final Piala FA di Tengah Tekanan, McFarlane Tetap Percaya Diri
Chelsea Resmi Tunjuk Xabi Alonso Sebagai Manajer Baru, Ikat Kontrak Empat Tahunres
Chelsea Gagal Juara Piala FA, McFarlane Klaim Performa Seimbang dengan Manchester City