SportlinkNews - Mantan bek kiri legendaris Barcelona, Jordi Alba, mengungkapkan memori paling kelam sepanjang karier profesionalnya di lapangan hijau. Ia menyebut malam tragis saat raksasa Catalan luluh lantak di markas Liverpool sebagai titik terendah yang menghancurkan mentalitasnya.
Alba yang kini telah resmi gantung sepatu setelah menyudahi masa baktinya bersama Inter Miami pada bursa transfer musim panas lalu. Kendati sempat melanglang buana, periode emas karier sepak bolanya tetap melekat erat saat berseragam Blaugrana dalam kurun waktu 2012 hingga 2023.
Rekor mentereng berhasil diukir oleh Alba dengan sumbangan total 17 trofi bergengsi selama 11 musim masa pengabdian di Camp Nou. Koleksi gelar domestiknya sangat dominan lewat raihan enam titel LaLiga dan lima Copa del Rey, meski ia tercatat hanya mampu merengkuh satu trofi Liga Champions pada musim 2024/25.
Baca Juga: Manchester United Utus 13 Pemainnya ke Piala Dunia FIFA 2026 Ini Nomor Punggungnya
Penyesalan terbesar Alba mencuat ketika mengenang momentum emas Barcelona yang kandas secara dramatis di babak semifinal kompetisi tertinggi antarklub Eropa tersebut. Berbekal kemenangan telak 3-0 pada laga pertama di kandang sendiri, Los Cules justru terlempar dari turnamen akibat kekalahan memalukan 0-4 saat melakoni laga tandang di Anfield.
Dampak psikologis dari hasil buruk di Inggris itu diakui Alba sangat memukul perasaan dan kehidupan pribadinya secara mendalam. Eks bek sayap ini meyakini bahwa kegagalan di markas The Reds telah merenggut kesempatan terbaik Barcelona untuk menguasai takhta Eropa kembali.
"Malam terburukku adalah malam di Liverpool," ucap Alba dalam siniar El Camino de Mario saat mengenang kembali tragedi memilukan tersebut. "Foto yang mereka muat... Saya bukannya menangis di paruh babak; saya merasa tidak sehat ketika itu."
Baca Juga: Jersey Ikonik Pele di Final Piala Dunia 1958 Dihargai Fantastis
Alba tidak menampik memikul tanggung jawab besar atas gol pembuka Liverpool yang merusak skenario taktis tim. Blunder fatal pada awal laga tersebut diakui menjadi pemicu runtuhnya mental bertanding seluruh skuad Barcelona kala itu.
"Aku membuat kesalahan di gol pertama mereka. Kami kan unggul 3-0 di leg pertama... pertandingannya seharusnya tidak bisa lepas dari genggaman kami. Aku yakin jika kami mencapai final, kami akan memenangi Liga Champions itu," tutur Alba menyesali jalannya laga.
Keterpurukan mental pascapertandingan membuat Alba memilih untuk menarik diri dari lingkungan sosial dan tekanan media massa. Ia membutuhkan waktu pemulihan yang cukup panjang untuk menyembuhkan luka batin akibat hasil minor yang mengguncang internal klub tersebut.
Baca Juga: Brasil Tak Diunggulkan di Piala Dunia 2026, Casemiro Malah Senang
"Setelah tersingkir di Liverpool, butuh waktu lama bagiku bisa keluar rumah. Saat itu adalah waktu yang sangat berat untuk klub dan untukku," ucapnya.
Pernyataan jujur dari Alba memberikan sudut pandang baru mengenai beban psikologis berat di balik gemerlap sepak bola modern. Tragedi Anfield tetap menjadi salah satu sejarah paling kelam yang terus membayangi generasi emas Barcelona hingga saat ini.
Artikel Terkait
Liverpool Pecat Arne Slot, Iraola Kandidat Pengganti
Steven Gerrard Sebut Liverpool Tepat Pecat Arne Slot
Gagal Capai Kesepakatan Kontrak Baru, Ibrahima Konate Pisah dengan Liverpool
Usai Dipecat, Arne Slot Yakin Generasi Baru Liverpool Siap Bersaing
Legenda Liverpool Sir Kenny Dalglish Didiagnosis Kanker dan Tengah Menjalani Perawatan