- M. Nigara
Wartawan Sepakbola Senior
SportlinkNews - Belakangan ini, sepak bola kita, Liga 1, Liga 2, Liga 3 atau Liga Nusantara, EPA, dan Liga 4 (tingkat propinsi), terus dan terus diwarnai kerusuhan.
Bahkan, tidak tanggung-tanggung, ada pembakaran gawang, Eboard, tengah-tengah lapangan, hingga ada juga penyerbuan rumah sakit, sesuatu yang sama sekali tidak masuk akal.
Ya, ada beberapa fasilitas rumah saki Panti Rahayu, yang rusak akibat tawuran dua kubu suporter. Anehnya, kedua suporter di Purwodadi yang berlaga di Liga-4 itu, dari kubu yang sama.
Baca Juga: Persija Minta Maaf, Meminta Suporter Lebih Dewasa Saat Menonton Pertandingan
Sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terjadi separah itu. Kalau pun ada kerusuhan, tidaklah hingga menyerbu rumah sakit. Ada satu pergeseran yang luar biasa sedang terjadi di lingkup suporter kita.
Dari Jawa Timur, Stadion Tuban Sport Center jadi saksi sekaligus korban pengrusakan suporter Persela Lamongan yang tak puas akibat tim kesayangannya kalah 0-1 dari Persijap Jepara.
Hancurnya harapan mereka untuk kembali bisa berlaga di Liga-1, pupus sudah. Untuk itu, meski tidak dibenarkan dalam khasanah apa pun, stadion tumpangan (catatan: sejak dua tahun lalu, Stadion Surajaya, markas tim Jaka Tingkir, belum juga rampung), jadi korban.
Baca Juga: Pertandingan di Liga Jerman Rusuh Antara Pemain dan Ofisial
Pembakaran dilakukan di banyak sektor. Maka kepulan asap seketika memenuhi segala sisi stadion. Tanda-tanda mereka akan berbuat rusuh sesungguhnya sudah terlihat sejak awal. Ya, sejak mereka mulai menyalakan flair dalam jumlah yang sangat banyak ketika laga sedang berlangsung.
Kerusuhan lainnya juga terjadi bahkan dari suporter klub-klub Liga-1. Jadi, sebagai wartawan yang sudah bergelut di kompetisi-kompetisi berbagai tingkat sejak Desember 1979, sungguh tidak masuk di akal saya mengapa saat ini terjadi hal-hal yang tidak masuk di akal itu.
Segala kekecewaan bahkan kesenangan, sering diwarnai oleh tindakan-tibdakan yang berbuntut pada kerusuhan. Padahal, sejak kasus Kanjuruhan, 1 Oktober 2022 (jujur, Aremania adalah korban bukan sebaliknya) FIFA sengaja berkantor di Jakarta. Mereka menjadi lebih peka pada pergerakan suporter sepakbola kita.
Baca Juga: Lionel Messi Pecahkan Rekor di MLS Meski Inter Miami Gagal Menang di Laga Perdana
Klub dirugikan
Sahabat saya Ferry Indra Syarif, pernah sama-sama menjadi bagian dari klub Persija Jakarta, belasan tahun lalu, bertanya terkait hukuman pada suporter. Sebagai sahabat, saya jelaskan bahwa prilaku supoeter pasti berdampak pada klub.
"Ingat kasus hooligan Liverpool di kasus Stadion Heysel, Brussels,Belgia?" tulis saya dalam WA.
Artikel Terkait
Lima Fakta Menarik di Balik Kemenangan Aston Villa atas Celsea, Ada Dua Sosok Debutan
Catatan Duel Barcelona vs Benfica: Siapa yang akan Lolos ke Perempat Final Liga Champions?
Gagal di Piala Asia U20 2025, PSSI Copot Indra Sjafri Sebagai Pelatih Kepala Tim Nasional Indonesia U20
Aksi Atlet Pelajar Bandar Lampung Pecahkan Dua Kali Rekor Middle Distance 1.000m
Hasil Liga 1: PSM Makassar Unggul Tipis, Nermin Haljeta Jebol Gawang Persija