Jujur, saya dan sahabat sesama wartawan sepakbola senior, Eddy Lahengko (mantan wartawan di Suara Pembaruan dan Sinar Harapan), merasa sangat senang.
Dari pengalaman kami dan saat melihat perkembangan sepak bola Vietnam yang ditangani pelatih asal Korsel, Park Hang-seo, begitu pesat.
Park, seperti pelatih-pelatih asal Korsel, sangat keras dan disiplin. Tidak jarang, pelatih asal Korsel, minimal hingga 2012, saat saya masih meliput di lapangan, 'menghajar' atletnya jika gagal. Apa lagi jika lawan yang dihadapi dinilai berada di bawah mereka.
Baca Juga: Abhinav M Tentang Tantangan Nutrisi yang Dihadapi Atlet Akar Rumput
Nah, dari pengalam meliput timnas, terlalu banyak pelatih yang memilih berkompromi dengan pemain. Akibatnya, ya prestasi sepak bola kita berjalan di tempat. Betul di tangan Sinyo Aliandu, 1985, kita mampu menjadi juara Sub-grup IIIB, kualifikasi Piala Dunia, Meksiko 1986.
Tapi, Herry Kiswanto dan kawan-kawan gagal menuju Meksiko setelah dua kali kalah dari tim asuhan Kim Jung Nam, Korea Selatan, juara Sub-grup IIIA. Kim juga terlihat memperlakukan pemainnya sangat keras. Dan 1986, menjadi titik awal Korsel bisa tampil di PD hingga saat ini.
Jadi, tidak berlebihan jika saya membayangkan STY juga demikian. Tapi, ternyata STY adalah sosok yang berbeda. Secara berseloroh, saya dan yunior-yunior saya di lapangan memyebut STY lebih Jawa dari orang Jawa.
Baca Juga: Erick Thohir Sebut Pelatih Baru Sepakat Bawa Timnas Indonesia Menuju Piala Dunia 2026
Namun dalam perjalanan, semua itu tidak lagi penting. STY pasti bukan Park Hang-seo, dan timnas kita bisa tampil lebih baik. Meski belum ada satu gelar pun yang diraih, bagi saya (kita bisa berbeda) menilai STY sudah berhasil.
Dua tahun pertama, 2019-2021, STY menggunakan pemain lokal. Hasilnya jauh dari harapan. Lalu, STY mengambil jalan pintas untuk mencapai prestasi (ini adalah tanggung jawab pelatih nasional, membuat timnas berprestasi) yakni naturalisasi.
Apalagi, sejak lama di era Nurdin Halid, PSSI sudah melakukannya. Bahkan saya (Go Sport), Yesayas Oktovianus (Kompas), Reva Deddy Utama (antv/tvone), dan Erwiantoro alias Cocomeo, memperoleh tugas pertama menjajaki naturalisasi ke Belanda, Januari-Februari 2009.
Baca Juga: Rapat Pleno KONI Pusat Singgung Permenpora No 14 Tahun 2024
Hasilnya, luar biasa. Khususnya timnas senior, telah memenuhi standar internasional. Sayang, di dalam perjalanan, diakui atau tidak, langsung atau tidak, telah terjadi pergesekan. Jika dibiarkan, sepak bola kitalah yang akan mengalami kerugian.
PSSI dalam hal ini, Erick Thohir (Ketua Umum), Zainudin Amali (Waketum), serta para pengurus harus segera mengambil keputusan. Utamanya untuk penyelamatan semua pihak.
Sudah jadi pergunjingan bahwa ada pemain-pemain yang menolak, ada pemain yang dibuang, dan ada pemain yang tidak lagi dberi peran. Padahal sudah sama-sama bersusah-payah.
Artikel Terkait
Arsenal 0 Newcastle 2: Alexander Isak Menyalurkan Jiwa Thierry Henry
Keluar dari Manchester United, Rashford Beri Sinyal ke Milan
Bilbao Vs Barcelona: Nico Williams Diragukan Tampil di Semifinal
Tertarik Beli Liverpool, Elon Musk Masuk Daftar Pemilik Kaya Liga Primer Inggris
Malaysia Open 2025: Jojo Langsung Tersingkir di Babak Pertama