Dan, secara normatif, hal seperti itu tidak berdiri sendiri. Ya, pasti ada sebab dan akibat.
Maka, meski harus jadi wadah tumpahan amarah, PSSI terpaksa melakukan itu.
Tidak ada jaminan, jika STY tetap dipertahankan, Indonesia akan lolos ke Piala Dunia 2026. Pasti juga tidak ada jaminan sehebat apa pun pengganti STY bisa benar-benar membawa timnas tampil di PD 2026 itu.
Nah, karena sama-sama tidak ada yang mampu menjamin, PSSI pasti memilih menyelamatkan kepentingan yang jauh lebih besar. Bahwa pilihannya tidak populis, tidak menyenangkan banyak pihak, itulah pilihan. Bahwa pilihannya akhirnya menuai hujatan besar, ya itulah pilihan.
Baca Juga: Akmal Marhali: Konflik di Timnas Indonesia Jadi Penyebab Pemecatan Shin Tae-yong
Agar kita tidak larut, saya mengajak kita semua untuk sama berdoa agar sepak bola Indonesia semakin berjaya. Jangan lupa, setelah bangsa kita nyaris terbelah sejak 2010 hingga saat ini, karena pilihan partai, presiden, gubernur, bupati, dan walikota, hanya sepakbolalah yang mampu mempersatukan kita.
Ketika kita mengibarkan sang merah-putih, sambil bernyanyi:
*Garuda di dadaku, Garuda kebanggaanku,
Ku yakin hari ini pasti menang...*
Sebagai bagian dari timnas yang tidak langsung, saya mengucapkan terima kasih pada STY. Sama dengan para pencintanya, saya juga perlu menegaskan bahwa Engkau (STY) tetap ada di hati kami.
Kamsahamnida STY...!
Artikel Terkait
Arsenal 0 Newcastle 2: Alexander Isak Menyalurkan Jiwa Thierry Henry
Keluar dari Manchester United, Rashford Beri Sinyal ke Milan
Bilbao Vs Barcelona: Nico Williams Diragukan Tampil di Semifinal
Tertarik Beli Liverpool, Elon Musk Masuk Daftar Pemilik Kaya Liga Primer Inggris
Malaysia Open 2025: Jojo Langsung Tersingkir di Babak Pertama