Para ahli memperkirakan suhu yang lebih tinggi akan menjadi tantangan besar bagi para peserta, termasuk pakar iklim Donal Mullan yang menilai ancaman suhu ekstrem kali ini lebih besar dibanding edisi sebelumnya.
Baca Juga: Demi Leg Kedua Liga Champions, Inzaghi Istirahatkan Lautaro Martinez Saat Inter Milan Bertemu Monza
"Ancaman suhu ekstrem akan lebih besar di Piala Dunia kali ini dibanding edisi sebelumnya," ujar Mullan, dikutip dari The Guardian.
Ia menambahkan bahwa beberapa venue di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada berpotensi menjadi "bencana yang menunggu untuk terjadi" jika tidak ditangani dengan baik.
Sebagai catatan, pada Piala Dunia 1994, suhu saat pertandingan di Amerika Serikat pernah mencapai 37 derajat Celsius.
Baca Juga: Genoa Tahan Imbang Cagliari, Maxwell Cornet Selamatkan Satu Poin di Laga Tandang
Kondisi ini tentu menjadi tantangan bagi para pemain, terutama mereka yang berasal dari negara-negara Eropa yang terbiasa dengan musim dingin.
Bagi tim-tim yang berasal dari negara beriklim tropis seperti Indonesia, suhu tinggi seharusnya bukan masalah besar.
Para pemain Garuda sudah terbiasa bertanding dalam kondisi panas, bahkan tanpa jeda pendinginan.
Baca Juga: Romelu Lukaku Curhat: Di Inggris, Mereka Memiliki Persepsi yang Salah Tentang Dirinya
Sebagai perbandingan, FIFPro telah menetapkan bahwa pertandingan sebaiknya dihentikan sementara untuk cooling break jika suhu mencapai 26 derajat Celsius.
Jika suhu menyentuh 28 derajat Celsius, pertandingan bahkan disarankan untuk ditunda.
Namun, batasan tersebut tampaknya kurang relevan bagi pemain Indonesia.
Baca Juga: Mohammed Kudus: Saya Merasa Bertanggung Jawab Mewakili Ghana di Liga Primer
Musim ini, PSSI dan PT LIB bahkan tidak menerapkan cooling break di tengah pertandingan, meskipun suhu sering kali berada di atas batas yang direkomendasikan FIFPro.