Ia menyebut keberhasilan ini tidak terlepas dari peran PSSI yang mulai menata sistem pembinaan usia muda dengan lebih serius.
Baca Juga: Jadwal Semifinal Liga Champions: Inter Vs Barcelona, Arsenal Kontra PSG
“Indonesia sebelumnya gagal dua kali ke Piala Dunia U-17."
"Tapi kemudian muncul sosok Nova Arianto yang bisa membawa tim ini lolos."
"Padahal, postur pemain Indonesia tergolong paling rendah dibanding tim-tim lain,” kata Raja.
Baca Juga: Jebol Gawang Mantan, Benjamin Pavard Meluapkan Emosi Bersama Inter
Menurut Raja Isa, keberhasilan tersebut merupakan hasil nyata dari upaya yang dilakukan federasi sepak bola Indonesia dalam membangun fondasi sepak bola usia muda.
PSSI dianggapnya mulai membangun sistem regenerasi yang patut dicontoh.
Meski sukses membawa Indonesia ke level yang lebih tinggi, Nova Arianto tidak lepas dari tantangan.
Baca Juga: Arsenal Pantas Ke Semifinal, Ancelotti Ungkap Kegagalan Real Madrid
Raja menjelaskan bahwa pelatih timnas U-17 itu sempat diragukan karena dianggap tidak cocok dengan filosofi permainan menyerang ala Belanda yang dibawa pelatih timnas senior.
Namun, Nova tetap mempertahankan pendekatan bermainnya sendiri, yakni strategi bertahan dan mengandalkan serangan balik cepat.
Gaya bermain ini sempat memunculkan perdebatan di kalangan pencinta sepak bola Indonesia, terbagi antara pendukung total football dan gaya catenaccio.
Baca Juga: Emosi di Bernabeu, Jude Bellingham Nyaris Bentrok dengan Declan Rice
“Ada dua kelompok yang terpecah, satu mendukung total football dan lainnya lebih menyukai gaya bertahan yang mengandalkan counter attack,” jelas Raja.