Satu-satunya pelajaran diambil Jepang dan Korsel adalah soal kompetisi. JFA dan KFA hingga 1980an awal belum jelas arah kompetisinya. Mereka datang ke Galatama, kompetisi nasional pertama di Indonesia.
Mereka melihat ada bonden (Perserikatan) ala Belanda, Galatama, Galakarya, dan Gala ABRI. Kedua mengikuti jejak Galatam, non amatir dan Galakarya, sepak bola yang melibatkan perusahaan.
Dari sana kemudian muncul Klub Matsushita (Jepang) di mana Ricky Yakob pernah bermain, Klub Daewoo (Korsel).
Bedanya, mereka bersatu: Eksekutif, memberi dukungan agar perusahaan besar mau memberilan sponsor. Yudikatif, menjaga agar tidak koruptif.
Legislatif, membuat regulasi lancar. Dan, wartawan memberi dukungan pemberitaan positif. JFA dan KFA diberi tenggat waktu la tahun, jila tidak nerjalan baik, baru boleh 'dibom' dengan kritik keras.
Hebatnya, orang sepakbola di kedua negara itu bahu-membahu hingga batas waktu lima tahun.
Di kita...? Hehehe, cermati saja kisah Shin Tae-yong yang terus digempur meski ia sudah meloloskan tiga level U20, U23, dan Senior ke Piala Asia. STY tetap dianggap tidak layak....
Semoga bermanfaat....