Hal ini membuat Milan secara praktis menurunkan lima pemain ofensif sekaligus, yang bisa sangat berisiko dalam transisi pertahanan.
Baca Juga: Turun Peringkat Klasemen Liga 1 Bikin Pelatih PSM Segera Lakukan Pembenahan
Fonseca sendiri menyiratkan pendekatan ofensif ini dalam konferensi persnya sebelum laga, dengan mengatakan, "Bagaimana kami mengalahkan Inter Milan? Dengan mencetak gol lebih banyak dari mereka."
Penggunaan strategi ofensif ekstrem ini tak lepas dari kritik.
Pengamat sepak bola, seperti Stefano De Grandis dari Sky Sport 24, menganggap bahwa pendekatan ini terlalu berisiko dan tidak seimbang.
Baca Juga: Kalah dari PSS Sleman, Joel Cornelli Lakukan Evaluasi Menyeluruh Skuad Arema FC
Menurut De Grandis, AC Milan masih memiliki kelemahan besar dalam fase transisi bertahan, terutama jika lawan melakukan serangan balik cepat.
"Formasi 4-4-2 ini bisa saja menjadi 4-2-4, dan meskipun Morata mungkin bisa membantu menghubungkan antar lini, dia bukan gelandang dan tidak akan mampu bertahan seperti itu," kata De Grandis.
"Jika Inter Milan melakukan serangan balik dengan cepat, Milan akan berada dalam situasi yang sangat berbahaya."
Baca Juga: Jadwal Lengkap dan Tayangan Langsung IBL All Indonesian 2024
Selain itu, kontribusi defensif dari pemain-pemain seperti Rafael Leao dan Christian Pulisic juga diragukan.
Mereka lebih fokus pada serangan dan cenderung sedikit berkorban untuk bertahan.
Ini membuat lini pertahanan AC Milan bisa terancam kebobolan jika tidak mendapatkan dukungan penuh dari sayap.
Baca Juga: IBL All Indonesian 2024 Resmi Digelar 14 Tim Basket Adu Kuat di Senayan
Situasi ini membuat posisi Fonseca semakin sulit.