SportlinkNews - Dalam demonstrasi mencolok tentang kemajuan kecerdasan buatan dan robotika dalam olahraga, China, minggu lalu, menjadi tuan rumah maraton pertama di dunia yang menampilkan robot humanoid yang berlomba bersama pelari manusia.
Acara yang diadakan di Kawasan Pengembangan Ekonomi-Teknologi Beijing ini dipandang sebagai ajang pamer teknologi sekaligus sinyal ambisi China yang semakin besar dalam perlombaan AI dengan Amerika Serikat.
Sebanyak 21 robot humanoid, didampingi oleh pengembangnya dari universitas dan perusahaan teknologi terkemuka, berpartisipasi dalam perlombaan sepanjang 21 kilometer.
Baca Juga: 5 Faktor Ini yang Bisa Membantu Meningkatkan Performa Atlet
Setiap robot, yang bervariasi dalam desain, ukuran, dan struktur, berlari di lintasan khusus, yang berjarak lebih dari satu meter dari satu sama lain.
Acara ini menarik banyak pengunjung, terpikat oleh pemandangan surealis robot dan manusia yang berlari berdampingan.
Pergantian baterai untuk robot meniru pit stop ala Formula 1, yang menyoroti tantangan teknis dari penggerak robot jarak jauh.
Acara ini tidak hanya tentang kecepatan—penghargaan juga diberikan dalam kategori seperti Daya Tahan Terbaik, Desain Gaya Berjalan Terbaik, dan Bentuk Paling Inovatif, yang mengakui keunggulan atletik dan teknik.
Baca Juga: Pertandingan Jepang Vs Timnas Indonesia Diprediksi Ramai, Ini Imbauan JFA
Kantor Berita Xinhua yang dikelola pemerintah merilis rekaman acara tersebut, yang memperlihatkan robot—termasuk satu yang mengenakan topi hitam dan sarung tangan putih—bergerak di sepanjang lintasan.
Meskipun meriah, perlombaan ini bukannya tanpa kendala. Video yang beredar di media sosial memperlihatkan beberapa robot kesulitan di awal, bahkan ada yang ambruk di tengah perlombaan karena masalah teknis.
Tiangong Ultra, yang dikembangkan oleh Tim Tiangong, muncul sebagai yang tercepat di antara robot-robot tersebut, menyelesaikan lintasan dalam waktu dua jam dan 40 menit.
Baca Juga: Go Ahead Eagles Juara Piala KNVB 2025, Dean James Tetap Beri Kontribusi Penting
Ini jauh lebih lambat daripada pelari manusia teratas, Elias Desta dari Ethiopia, yang menyelesaikan perlombaan hanya dalam waktu lebih dari satu jam dan dua menit.
Artikel Terkait
Jadwal Pertandingan Liga 1 2024/2025 Pekan ke-30, Kompetisi Semakin Ketat dan Menentukan
Persib Bandung Punya 12 Pencetak Gol, Bojan Hodak: Tak Bisa Andalkan Satu Pemain
Piala Sudirman 2025: Perubahan Mendadak di Skuat Indonesia, Kesempatan Pemain Muda Tampil
David Singleton Ditunjuk jadi Head Coach Timnas Indonesia, Ini Alasannya...
Test Rider Honda Aleix Espargaro Kembali Membalap di MotoGP Spanyol dengan Status Wildcard