SportlinkNews - Salah satu talenta terbaik sepak bola putri Indonesia, Octavianti Dwi Nurmalita mungkin tidak langsung lahir dari lapangan Hijau.
Perjalanan karier motor penggerak lini tengah Timnas Putri Indonesia ini tidak datang secara instan, tetapi dari pencarian panjangnya di dunia olahraga.
Sebelum bergelut dengan sepak bola di masa Sekolah Menengah Atas, Octa lebih dahulu bergelut di dunia pencak silat, bola voli, basket, bahkan futsal, tapi sepak bola lah yang membuatnya jatuh cinta sepenuhnya.
Di SMA, pertama kali dirinya bergabung dengan klub sepak bola putri Srikandi Mataram di tanah kelahirannya, Yogyakarta.
Baca Juga: Tempuh Perjalanan 20 Jam Lebih, Kiper Anyar Persib Adam Przybek Mulai Latihan
Pemain dengan jersey no. 7 ini pernah mengatakan tak menyangka dirinya akan bertahan lama di sepak bola. Bahkan dia menilai separuh hidupnya kini ada di sepak bola.
Karirnya di Timnas sendiri bermula saat laga latih tanding antara klubnya dengan timnas putri. Permainannya yang ciamik membuat Pelatih Timnas Putri saat itu Satia Bagja pun memanggilnya untuk masuk dalam seleksi timnas proyeksi Asian Games 2018.
Saat itu, Octa belum berjodoh masuk timnas, dia gagal lolos. Namun, Octa tidak perlu menunggu lama, setahun kemudian, dia justru dipanggil Timnas dan bertahan hingga saat ini memperkuat skuat Garuda Pertiwi.
Sejak debutnya bersama Timnas Putri tersebut, Octa telah mengoleksi 24 caps dan 3 gol.
Baca Juga: Debut Global F1 The Movie Raup Pemasukan Fantastis Jadi Film Brad Pitt yang Paling Sukses
Salah satu momen paling bersejarah adalah ketika ia mencetak gol penalti kemenangan atas Singapura dalam kualifikasi Piala Asia Wanita 2022, sekaligus mengantarkan Indonesia lolos ke turnamen tersebut.
Pada 2024, ia kembali menunjukkan tajinya lewat gol krusial melawan Bahrain (3–2) dan satu gol lainnya di AFF Women's Cup. Moment itu yang menurutnya paling berkesan dan tak mungkin dilupakannya.
"Itu jadi hal yang berkesan sekali buat saya. Rasanya seperti pembuktian ke diri sendiri, bahwa saya juga bisa ya ternyata, meski main di belakang," ujarnya.
Sebagai gelandang tengah, Octavianti memainkan peran vital, yakni mengatur ritme permainan, menyambungkan lini belakang ke lini depan, serta menciptakan peluang bagi rekan-rekannya.
Baca Juga: Catatan Buruk Pertandingan Chelsea Melawan Tim Brasil di Piala Dunia Antarklub
Visi bermain yang tajam, kemampuan membaca permainan, dan distribusi bola yang akurat membuatnya menjadi jantung permainan tim.
Statistiknya bersama Timnas di tahun ini juga cukup mumpuni, memiliki 285 menit bermain di empat laga, mencatatkan satu gol, satu assist, dan satu Kartu Kuning. Dalam empat laga bersama Timnas di 2025, dua diantaranya dia sebagai starter.
Dengan performa stabil dan rekam jejak yang terus menanjak, Octavianti berpotensi mengikuti jejak rekan-rekannya seperti Helsya Maeisyaroh dan Zahra Muzdalifah untuk bermain di luar negeri.
"Ya, bermain di luar negeri adalah target saya. Ingin bisa merasakan pengalaman bagaimana sih rasanya bermain di kompetisi besar, merasakan suasananya, apalagi di Indonesia belum jalan-jalan liganya," tukasnya.
Baca Juga: Xabi Alonso Ungkap Kunci Keberhasilan Real Madrid Mengalahkan Juventus di Piala Dunia Antarklub FIFA 2025
Salah satu tim luar negeri yang menjadi incarannya yakni Barcelona Putri. Meskipun, Octa masih bingung untuk bisa mencapai kesitu dibutuhkan skill macam apa.
Sebagai salah satu pemain putri masa depan Indonesia, Octa pun meninggalkan pesan untuk para teman-temannya yang baru mau mulai bermain sepak bola, tapi masih ragu-ragu.
Bahwa segala sesuatunya bila tidak dicoba maka tidak bisa mengatakan akan cocok atau tidak, karena menurutnya kesempatan tidak datang dua kali.
"Dan ketika sudah 'tercebur', ya harus konsisten. Lebih fokus, biar apa yang sudah dilatih bisa lebih terasah, biar nantinya target mereka secara pribadi bisa tercapai," tambah dasar kelahiran Oktober 1998 itu.
Baca Juga: Dikalahkan Real Madrid, Igor Tudor Akui Pemainnya Tampil Maksimal Ketimbang Saat Melawan Manchester City
Hanya satu harapannya untuk sepak bola putri Indonesia, yakni memiliki kompetisi. Liga bergulir lagi tiap tahunnya agar perkembangan sepak bola putri di Indonesia semakin maju.
"Ya harapannya cuma itu. Saya ingin sepak bola putri itu lebih dilihat lagi dan lebih serius ditanganinya," pungkas Octa kemudian.
Artikel Terkait
Shafira Ika, Kapten Timnas Putri Indonesia yang Pernah Alami Cedera Mengerikan
Kalah 1-6, Timnas Putri Indonesia Terpuruk di Grup A Piala Asia Tenggara
Erick Thohir Targetkan Timnas Putri Indonesia Lolos ke Piala Asia 2026 dan Bidik Piala Dunia
Hasil Kualifikasi Piala Asia 2026: Gol Tunggal Isa Warps Antar Timnas Putri Indonesia Kalahkan Kirgiztan
Jadwal Siaran Langsung Timnas Putri Indonesia Vs Pakistan: Tunggu Selebrasi Baru Isa Warps