SportlinkNews - Mengintegrasikan latihan lari dan kekuatan menjadi strategi andal bagi para atlet untuk meningkatkan performa.
Namun, sering kali muncul pertanyaan, "Bagaimana cara menyusun jadwal yang efektif agar keduanya tidak saling mengganggu?"
Sebuah tinjauan ilmiah terhadap 132 studi internasional mengungkapkan, tubuh memerlukan waktu pemulihan 1–2 hari lebih lama setelah sesi latihan kekuatan intensif, dibandingkan lari dengan intensitas tinggi.
Baca Juga: Teknologi Memainkan Peran Penting dalam Latihan Atlet
Hal ini menegaskan bahwa waktu adalah kunci dalam mengoptimalkan kedua jenis latihan ini.
Menggabungkan latihan beban tidak hanya membuat otot lebih kuat, tetapi juga lebih efisien.
Kenji Doma, seorang ilmuwan olahraga, menjelaskan bahwa angkat beban mengubah cara otot merekrut saraf.
Hasilnya, otot menggunakan serat yang lebih tahan lelah, sehingga pelari bisa mempertahankan kecepatan lebih lama dengan energi yang lebih efisien.
Baca Juga: Dawuda Tembus 10 Besar Top Skor Kejuaraan Dunia Voli Putra U21
Tahukah kamu bila jadwal ideal itu menghindari penurunan performa?
Studi yang dilakukan Doma pada 15 pelari membuktikan bahwa menggabungkan lari dan latihan kekuatan dapat meningkatkan performa secara keseluruhan.
Namun, ia menemukan bahwa performa lari cepat menurun drastis jika dilakukan kurang dari 24 jam setelah latihan kekuatan berat, terutama pada bagian kaki.
Baca Juga: Resmi: Legendaris Vardy Bergabung dengan Cremonese sebagai Agen Bebas
Sebaliknya, lari dengan intensitas rendah atau lari pemulihan tidak terpengaruh jika dilakukan minimal enam jam setelah latihan kekuatan.
Artikel Terkait
6 Keterampilan Mental yang Harus Dikembangkan Semua Atlet, Dengarkan Suara Malaikat
Barcelona dan Everton Tersingkir, Villarreal Dapatkan Tanda Tangan Talenta Muda Kamerun
Calvin Verdonk Resmi Jadi Pemain Indonesia Pertama di Liga Prancis, Begini Komentarnya
Isak Pecahkan Rekor Transfer, Pakai Jersey Nomor 9 Liverpool