Pakar Peringatkan Risiko Dehidrasi Akut Akibat Panas Ekstrem di Piala Dunia 2026

Muhammad Ridwan, Sportlink News
- Selasa, 9 Juni 2026 | 20:58 WIB
Trofi Piala Dunia 2026 (FIFA)
Trofi Piala Dunia 2026 (FIFA)

SportlinkNews - Gelaran Piala Dunia 2026 yang berlangsung di kawasan Amerika Utara dipastikan menghadapi tantangan alam serius berupa lonjakan temperatur dan tingkat kelembaban yang sangat tinggi.

Kondisi krusial ini menuntut kesigapan penuh dari tim medis serta staf kepelatihan negara peserta untuk menyusun strategi khusus dalam menangani ancaman dehidrasi para pemain.

Sinyal kewaspadaan tersebut dilemparkan oleh pakar cedera olahraga terkemuka, Stephen Smith, dalam sebuah laporan wawancara yang dipublikasikan oleh media Inggris, The Sun.

Baca Juga: Feyenoord Pecat Van Persie Meskipun Lolos ke Liga Champions

Ia menyoroti bagaimana faktor lingkungan makro di negara tuan rumah dapat memengaruhi metabolisme tubuh para atlet yang bertanding dalam intensitas tinggi.

Sebelumnya, otoritas terkait telah memetakan potensi cuaca ekstrem sepanjang Juni hingga Juli dengan suhu yang diprediksi konsisten melampaui angka 30 derajat celsius.

Tiga kota besar di Amerika Serikat, yakni Boston, Miami, dan Dallas, menjadi wilayah yang mendapat perhatian paling ketat karena memiliki indeks panas yang cukup menyengat.

Baca Juga: Tidak Hanya Bidik Juara Super League, Persija Juga Minta Shin Tae-yong Lakukan Hal Penting Lainnya

“Dengan temperatur seperti yang kami perkirakan (sangat tinggi), kehilangan cairan bisa mencapai 1,4 kg per jamnya. Itulah mengapa FIFA mengimplementasikan jeda hidrasi selama tiga menit di setiap babak dan kontrol suhu udara di bangku cadangan,” kata Smith.

Dampak dari penguapan cairan tubuh yang masif tersebut dinilai tidak hanya merugikan kesehatan fisik secara personal, melainkan juga merusak skema permainan tim.

Smith memprediksi kelelahan dini akan berjalan linear dengan penurunan performa, yang pada akhirnya memaksa para pelatih menerapkan kebijakan rotasi skuad yang agresif.

“Panas di sini adalah masalah berdampak. Lapangan yang panas lebih cepat kering dan mengeras, sehingga pemain, di bawah pengaruh panas, berkompetisi dengan tempo lebih cepat dan menunjukkan mekanik kontrol lapangan yang lebih buruk,” ujarnya.

Baca Juga: Borneo FC Samarinda Ditinggal Banyak Pemainnya, Bagaimana Nasibnya Musim Depan?

“Akan ada penurunan performa fisik yang lebih cepat daripada yang biasanya dilihat. Itulah mengapa kita mungkin akan melihat rotasi pemain yang lebih besar untuk mengimbangi fakta ini,” ia melanjutkan.

Halaman:

Editor: Muhammad Ridwan

Sumber: The Sun

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Latihan Sprint Untuk Petinju, Begini Anjurannya

Selasa, 7 April 2026 | 09:50 WIB
X