Pesenam Elit Tidak Lagi Pensiun setelah Hamil, Ilmu Olahraga Perlu Mengejar Ketertinggalan

Suryansyah, Sportlink News
- Kamis, 27 Agustus 2026 | 08:32 WIB
Pesenam Alice Kinsella berbicara tentang kembali ke kompetisi elit setelah melahirkan.
Pesenam Alice Kinsella berbicara tentang kembali ke kompetisi elit setelah melahirkan.

Perubahan kecil sekalipun pada cara pesenam bergerak atau mendarat dapat berdampak drastis terhadap performa dan meningkatkan risiko cedera.

Pesenam menghasilkan dorongan layaknya pegas dalam sepersekian detik melalui kaki dan tangan mereka, menghantam meja lompat (vault) dengan kekuatan yang mencapai tiga kali lipat berat tubuh mereka.

Kemudian, mereka mendarat dengan beban tubuh 15–20 kali lipat berat badan yang ditopang oleh kaki dan tulang belakang, sembari menjaga keseimbangan di atas balok yang lebarnya tidak lebih dari sebuah ponsel pintar.

Mereka membuat situasi berbahaya tampak anggun. Faktanya, meskipun senam tidak melibatkan kontak fisik, hampir semua pesenam elite (90%) mengalami cedera setiap musimnya; hal ini menempatkan senam dalam tingkat risiko yang setara dengan sepak bola.

Baca Juga: Stadion Sultan Agung Jalani Audit Infrastruktur Demi Kenyamanan Penonton Selama Super League

Saat para ibu beraksi di udara
Perubahan terkait kehamilan pada distribusi massa tubuh, beban sendi, dan kendali neuromuskular memengaruhi cara pesenam melakukan pendaratan, menghasilkan tenaga, dan mengatur gerakan.

Sebagai contoh, perubahan pada stabilitas otot inti (core) dan panggul dapat mengubah cara tubuh meredam benturan saat mendarat, sementara sedikit pergeseran keseimbangan atau waktu gerakan dapat memengaruhi akurasi saat melompat dan rotasi di udara. Perubahan-perubahan ini dapat berdampak pada risiko cedera, kepercayaan diri, dan konsistensi teknis.

Pada tahun 2018, Komite Olimpiade Internasional untuk pertama kalinya menerbitkan panduan mengenai kembali berolahraga setelah melahirkan, namun panduan tersebut hanya memberikan sedikit wawasan tentang bagaimana kemampuan yang krusial bagi performa dibangun kembali.

Baca Juga: Raheem Sterling Terancam Hukuman Penjara Dua Tahun Gegara Laughing Gas

Dalam senam artistik, contoh kembalinya atlet berkompetisi pasca-kehamilan secara historis jarang terjadi dan sering kali luput dari perhatian. Salah satu kasus paling awal dan paling mencolok adalah pesenam artistik asal Uzbekistan, Oksana Chusovitina.

Ia melahirkan putranya pada tahun 1999 di usia 24 tahun dan kembali berkompetisi kurang dari setahun kemudian di Olimpiade Sydney 2000. Pada tahun-tahun setelah melahirkan, ia memenangkan medali emas Kejuaraan Dunia pada nomor meja lompat (vault) tahun 2003 dan terus berkompetisi di tingkat internasional selama lebih dari dua dekade.

Chusovitina menunjukkan betapa sempitnya pandangan dunia senam mengenai usia, namun selama bertahun-tahun ia dianggap sebagai kasus pengecualian yang unik.

Perubahan nyata mulai terjadi pada pertengahan hingga akhir tahun 2010-an. Pesenam menjalani karier kompetitif lebih lama dan usia rata-rata atlet pun meningkat.

Baca Juga: Fermin Aldeguer Bergabung dengan Pertamina Enduro VR46 Racing Team Mulai 2027

Perubahan pada sistem penilaian (code of points) Federasi Senam Internasional—badan yang mengatur kompetisi di semua disiplin senam—mulai memberikan apresiasi lebih terhadap pengalaman atlet.

Halaman:

Editor: Suryansyah

Sumber: theconversation

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Evolusi dan Dampak Sport Science pada Performa Atletik

Selasa, 18 Agustus 2026 | 10:07 WIB

Unik, Main Catur di Bawah Air

Jumat, 7 Agustus 2026 | 09:01 WIB
X