Pada tahun 1966, Kejuaraan Atletik Eropa memutuskan semua atlet wanita perlu menjalani tes jenis kelamin. Selama bertahun-tahun, metode pilihan mereka mencakup inspeksi visual, pemeriksaan ginekologi, dan pengujian kromosom.
Namun semua penelitian yang dilakukan sangat bertentangan dengan catatan sejarah.
“Saya belum menemukan contoh laki-laki yang berpura-pura menjadi wanita untuk memenangkan kompetisi olahraga perempuan. Nol,” tulis Mertens. Namun dari tahun 1968 hingga 1999, “lebih dari 10.000 wanita diuji jenis kelaminnya di Olimpiade.”
Kenyataannya adalah kadar testosteron berfluktuasi sepanjang hidup seseorang. Misalnya saja, kadar hormon pria menurun ketika mereka merawat bayi, sementara kadar hormon wanita justru meningkat selama kehamilan.
Artikel Terkait
Menpora Apresiasi Byon Combat Showbiz 3 Jadi Ajang Pembinaan Boxing dan Kickboxing
Ganda Putri Jesita Putri Miantoro/Febi Setianingrum Juara Turnamen Kaohsiung Masters 2024
Chelsea Amankan Talenta Muda Brasil Estevao Willian dengan Biaya Fantastis
Como 1907 Sambut Serie A, Gaet Bomber Top Italia Andrea Belotti
Gary Neville Terkagum-kagum dengan Prestasi Cristiano Ronaldo, Meski Sudah 6 Tahun Bermain Bersama