Dalam pelaksanaan tes tersebut, Persebaya turut memanfaatkan teknologi VALD Performance, perangkat yang selama ini digunakan untuk mendukung proses pengukuran performa atlet secara objektif dan akurat.
Muhammad Nur Rofik, Performance Coach DBL Academy yang turut mendampingi pelaksanaan CMJ Test, menjelaskan bahwa teknologi tersebut memungkinkan tim mendapatkan data yang jauh lebih rinci dibandingkan pengamatan secara visual.
"Melalui sistem VALD Performance, kami bisa memperoleh data yang cukup lengkap. Tidak hanya tinggi lompatan, tetapi juga peak power atau daya ledak maksimum yang dihasilkan pemain saat melakukan lompatan," ujarnya.
Baca Juga: Kesepakatan Tercapai: Modric Teken Kontrak Baru Milan hingga Juni 2027
Data yang diperoleh dari perangkat tersebut kemudian menjadi bahan analisis untuk melihat kondisi fisik masing-masing pemain secara lebih detail.
CMJ Test dipilih karena dinilai sangat relevan dengan karakteristik permainan sepak bola yang didominasi aktivitas anggota tubuh bagian bawah, seperti berlari, berakselerasi, melompat, hingga melakukan perubahan arah.
"Gerakan pada tes CMJ memiliki mekanisme yang cukup merepresentasikan tuntutan permainan, sehingga sangat relevan digunakan untuk mengukur kapasitas fisik pemain sepak bola," jelas Rofik.
Baca Juga: Dipinang Chelsea, Morgan Rogers Jadi Pemain Inggris Termahal
Rofik menambahkan, waktu pelaksanaan tes juga menjadi faktor penting. Dengan dilakukan pada H+2 setelah pertandingan, tim pelatih dapat melihat secara lebih jelas bagaimana respons tubuh pemain setelah menerima beban pertandingan.
"Tes kali ini dilakukan pada H+2 setelah pertandingan, sehingga kami bisa melihat bagaimana respons fisik pemain setelah menjalani beban kompetisi."
"Hasilnya bisa meningkat atau menurun, tergantung kondisi masing-masing pemain. Dari situ kami membuat catatan dan rekomendasi yang kemudian menjadi bahan evaluasi bagi tim pelatih dan tim medis," jelasnya.
Yuk, gabung di channel whatsapp sportlinknews.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru. Klik di sini (JOIN)