sport-science

Pesenam Elit Tidak Lagi Pensiun setelah Hamil, Ilmu Olahraga Perlu Mengejar Ketertinggalan

Kamis, 27 Agustus 2026 | 08:32 WIB
Pesenam Alice Kinsella berbicara tentang kembali ke kompetisi elit setelah melahirkan.

Antara tahun 2003 dan 2016, usia rata-rata pesenam putri elite meningkat 3,3 tahun, bergeser dari sekitar 17 tahun menjadi 20–21 tahun. Pesenam seperti Simone Biles (AS, 28), Rebeca Andrade (Brasil, 26), Becky Downie (Inggris Raya, 34), dan Ellie Black (Kanada, 30)—untuk menyebut beberapa nama—berhasil memenangkan medali saat mereka berusia akhir 20-an hingga awal 30-an.

Atlet Olimpiade asal Inggris, Alice Kinsella, merepresentasikan sesuatu yang baru. Rencana kembalinya ia berkompetisi setelah melahirkan bukan sekadar soal kembali ke arena.

Hal ini juga mencakup bagaimana ia melakukannya, yakni dengan dukungan ilmiah yang terstruktur serta dipantau sebagai bagian dari studi kasus akademis. Pendekatan Kinsella mengubah proses kembali berkompetisi yang berisiko menjadi sesuatu yang dapat dipahami, didukung, dan ditiru oleh pesenam lainnya.

Tidak semua upaya membuahkan hasil. Aliya Mustafina, peraih dua medali emas Olimpiade asal Rusia, melahirkan putrinya pada tahun 2017 di usia 24 tahun dan kembali berkompetisi dalam waktu 16 bulan, dengan tujuan untuk kembali ke level tertinggi pada siklus Olimpiade berikutnya.

Baca Juga: Trio Lini Depan Chelsea Oke, Sektor Belakang Masih Bermasalah

Terlepas dari pengalaman dan tekadnya, cedera yang terus-menerus membatasi kemampuannya untuk berkompetisi, dan ia akhirnya pensiun pada tahun 2021. Tidak ada bukti bahwa cedera tersebut disebabkan oleh kehamilan, namun pengalamannya menunjukkan betapa rentannya perjalanan kembali berkompetisi pasca-kehamilan dalam dunia senam.

Baru-baru ini, pesenam Jade Barbosa memberikan bukti lebih lanjut mengenai perubahan ini. Sebagai atlet yang telah tiga kali tampil di Olimpiade dan anggota tim Brasil yang mencetak sejarah dengan meraih medali perunggu di Olimpiade Paris 2024, Barbosa menyambut kelahiran anak pertamanya pada akhir tahun 2025.

Selama masa kehamilan, ia secara terbuka membagikan informasi mengenai latihannya dan menyatakan niatnya untuk kembali berkompetisi.

Kisah-kisah ini menunjukkan adanya perubahan sikap. Semakin banyak pesenam yang menolak anggapan bahwa mereka harus memilih antara tampil prima dan menjadi seorang ibu.

Baca Juga: Manchester United & adidas Melengkapi Koleksi dengan Jersey Ketiga yang Elegan

Mengapa hal ini penting
Selama bertahun-tahun, penelitian mengenai performa atlet lebih banyak berfokus pada laki-laki; sebagian alasannya adalah karena tubuh perempuan mengalami lebih banyak perubahan seiring waktu akibat fluktuasi hormon, sehingga hasilnya lebih sulit untuk diperbandingkan.

Kehamilan dan masa pemulihan pasca-melahirkan menambah tantangan tersendiri, di samping adanya pertimbangan etis dan keterbatasan dana. Itulah sebabnya studi kasus seperti yang direncanakan terkait Kinsella menjadi sangat penting.

Olahraga tingkat elite memengaruhi cara pandang masyarakat terhadap tubuh perempuan. Jika kembalinya seorang atlet ke dunia olahraga setelah melahirkan selalu dianggap sebagai sesuatu yang luar biasa atau langka, hal itu dapat membuat gagasan untuk tetap aktif setelah melahirkan tampak mustahil bagi kebanyakan perempuan.

Baca Juga: ASEAN Championship 2026: Vietnam Pertahankan Takhta Asia Tenggara, Thailand Kembali Jadi Runner-up

Jika kembali berkompetisi pasca-kehamilan menjadi hal yang lumrah dan bukan lagi pengecualian, maka linimasa performa atlet perempuan akan berubah secara permanen, begitu pula dengan ekspektasi yang dibebankan kepada perempuan dalam dunia olahraga.

Halaman:

Tags

Terkini

Evolusi dan Dampak Sport Science pada Performa Atletik

Selasa, 18 Agustus 2026 | 10:07 WIB

Unik, Main Catur di Bawah Air

Jumat, 7 Agustus 2026 | 09:01 WIB