Negara-negara tersebut selama ini memang selalu fokus pada pengembangan sepak bola sekolah, membangun fasilitas modern, dan sistem kepelatihan yang bermutu tinggi.
Terakhir, kegagalan di kualifikasi Piala Dunia 2026 membuat sepak bola China harus benar-benar mempertimbangkan kembali strategi pengembangannya.
Pelajaran dari kenyataan menunjukkan bahwa pembangunan berkelanjutan tidak bisa datang dari upaya jangka pendek, tetapi harus berawal dari pembinaan pemain lokal sejak usia muda.
Baca Juga: Timnas U-23 Indonesia Era Gerald Vanenburg Tanpa Marselino dan 3 Pemain Senior
Tanpa rencana jangka panjang, semua upaya itu hanya sekadar "terapi sementara" dan sulit untuk membawa sepak bola Tiongkok keluar dari lingkaran setan kegagalan selama bertahun-tahun terakhir.
Tentu saja, pendapat di atas hanya dari pihak sepak bola China, berdasarkan situasi mereka, belum tentu benar-benar berlaku untuk kasus Indonesia atau Malaysia.
Khususnya dengan Indonesia, mereka sebenarnya masih gencar melakukan pembinaan pemain muda dalam negeri, seiring dengan kebijakan naturalisasi.
Baca Juga: Piala AFF U-23: Duel Krusial Timnas Indonesia Vs Malaysia di SUBGK
Dan kebijakan keimigrasian Indonesia saat ini masih lebih banyak ditujukan kepada pemain berdarah Indonesia, yang menjangkau berbagai usia dari muda hingga tua, bahkan membawa kemajuan bagi tim nasional.
Dalam kasus Malaysia, masih harus dilihat apakah kebijakan naturalisasi mereka berkelanjutan dalam jangka panjang, mirip dengan tren Indonesia.