Dalam laga melawan Malaysia pada babak penyisihan grup, Robi Darwis beberapa kali melakukan lemparan ke dalam yang diarahkan langsung ke kotak penalti lawan.
Lemparan tersebut menciptakan situasi berbahaya dan sering kali membuat lini belakang lawan panik.
Eksekusi yang presisi dan kekuatan lemparan menjadi keunggulan tersendiri yang jarang dimiliki oleh tim-tim lain.
Sementara itu, taktik kedua yang dianggap ‘aneh’ oleh media Vietnam adalah fleksibilitas posisi pemain.
Baca Juga: Striker Muda Vietnam Siap Redam Tekanan Suporter Timnas U23 Indonesia di SUGBK
Contohnya, ketika Vanenburg secara tak terduga memasukkan Muhammad Ferarri, yang biasanya bermain sebagai bek tengah, ke lini depan untuk berduet dengan Jens Raven.
Pergantian ini terjadi pada menit ke-77 saat menghadapi Thailand di semifinal.
Kehadiran Ferarri yang memiliki postur ideal dan kuat dalam duel udara memberikan tekanan besar kepada pertahanan Thailand.
Baca Juga: Aitana Bonmati Soroti Kekalahan Spanyol di Euro 2025
Kombinasi ini terbukti efektif saat Indonesia mencetak gol penyama kedudukan melalui situasi bola mati yang dimanfaatkan Raven.
Menghadapi Indonesia di final, pelatih Vietnam Kim Sang-sik diingatkan agar mewaspadai berbagai taktik tak terduga dari Vanenburg.
Media Vietnam menilai bahwa fleksibilitas strategi serta keputusan yang tidak konvensional dari sang pelatih membuat Indonesia menjadi tim yang sulit diprediksi.
Laga final ini tidak hanya menjadi ajang pembuktian kekuatan dua tim terbaik turnamen, tetapi juga pertarungan kecerdasan antara dua pelatih dengan gaya berbeda.
Dengan karakter taktik yang kreatif dari Vanenburg dan pendekatan disiplin dari Kim Sang-sik, laga Indonesia vs Vietnam diprediksi akan berlangsung sengit dan penuh kejutan.