Ia menegaskan bahwa PSSI tidak ingin terburu-buru dalam menentukan sosok pengganti pelatih sebelumnya.
Baca Juga: Menang Sprint di Sepang, Francesco Bagnaia Akui Belum Pulih Sepenuhnya
Bagi Erick, penting untuk memilih figur yang tidak hanya memiliki kualitas teknis tinggi, tetapi juga karakter kuat dan kemampuan manajerial yang baik dalam membangun hubungan dengan semua elemen sepak bola nasional.
“Tidak ada pelatih yang sempurna,” lanjutnya.
“Tapi kami ingin pelatih yang bisa menjalin hubungan lebih baik, bukan hanya dengan PSSI, tetapi juga dengan suporter, pemain, dan seluruh pihak yang terlibat.”
Baca Juga: Timnas U-22 Indonesia Fokus di FIFA Matchday, Indra Sjafri Incar Lawan Berkualitas
Selain aspek performa di level senior, Erick juga menyoroti pentingnya sinkronisasi antara timnas kelompok usia, mulai dari U-17, U-20, hingga U-23.
Pelatih baru diharapkan dapat berperan sebagai jembatan agar sistem pembinaan pemain berjalan berkesinambungan.
“Strata ini yang sedang kami bangun. Kami harus menjaga benang merah supaya punya sistem sepak bola yang utuh seperti negara-negara maju di Asia,” ujarnya.
Baca Juga: Mengerikan, Empat Fotografer Terluka dalam Insiden Kecelakaan Supercars di Australia
Ia menilai bahwa tanpa keselarasan sistem, upaya pembinaan akan berjalan tidak efektif.
“Kalau tidak sinkron, polanya akan berbeda. Pelatih U-17 punya pola lain, cara melatih beda, U-20 beda, U-23 juga beda."
"Sinkronisasi pemainnya bagaimana? Itu yang kami bangun,” tutup Erick.
Baca Juga: Melaju ke Semifinal, Fajar/Fikri Harapan Terakhir Indonesia di French Open 2025
Dengan strategi yang matang dan visi jangka panjang tersebut, PSSI berharap pelatih baru timnas Indonesia kelak dapat membawa tim Merah Putih naik level, bukan hanya di kawasan Asia Tenggara, tetapi juga di pentas internasional.