"Kalau untuk persiapan secara teknis tidak ada yang berbeda tapi untuk beregu lebih ke bagaimana kita membangun kebersamaan, baik di tunggal maupun di ganda. Kita harus saling support apapun hasilnya. Perjuangan anak-aak dengan memberikan yang terbaik sesuai kapasitasnya sudah cukup bagi kami," ujar Didi.
Baca Juga: Hyundai WRC Lelang Barang Pembalapnya untuk Craig Breen Foundation
Terkendala kondisi shuttlecock
Walau latihan berjalan lancar tetapi adaptasi belum sepenuhnya maksimal. Jonatan Christie merasakan ada yang tidak normal pada shuttlecock yang digunakan.
Shuttlecock dirasa lajunya terlalu kencang.
"Shuttlecock yang kami coba di latihan hari ini, yang dikatakan panitia adalah shuttlecock yang akan digunakan di pertandingan, menurut saya lajunya terlalu kencang dan kencangnya berlebihan," jelas Jonatan.
"Memang ada shuttlecock yang kencang tapi tidak sekencang ini juga. Itu yang masih menganggu tadi. Hanya kalau dari kondisi lapangan secara garis besar sudah ok," kata juara All England 2024 itu.
Senada dengan Jonatan, Daniel Marthin juga mengeluhkan kondisi shuttlecock.
"Lapangan tidak ada masalah, ini standar China pada umumnya. Hanya saja, saya harus lebih beradaptasi lagi dengan shuttlecock yang sangat kencang ini," ujar Daniel.
"Saya juga harus waspada perubahan tiba-tiba. Di latihan shuttlecocknya kencang, pada saat pertandingan bisa saja jadi lambat," tutur Daniel.
Baik tim Thomas maupun Uber Indonesia masih memiliki kesempatan satu kali lagi pada Jumat (26/4) besok sebelum menjalani laga pembuka pada hari Sabtu (27/4).