bulutangkis

Sumbangsih Candra Wijaya Demi Menjaga Supremasi Sektor Ganda

Selasa, 27 Agustus 2024 | 08:10 WIB
Legendaris bulu tangkis Indonesia Candra Wijaya (kanan) menggelar kejuaraan bulu tangkis khusus ganda.

Pada awal penyelenggaraan, ajang ini semula bertajuk “Yonex-Sunrise Men’s Doubles Championships” karena hanya khusus mempertandingkan ganda putra.

Pada 2015, kejuaraan berganti kulit menjadi “Yonex-Sunrise Doubles Special Championships” yang tidak saja mempertandingkan nomor ganda putra, melainkan juga ditambah dengan ganda putri dan ganda campuran.

“Mulai 2015 saya membuat perubahan dengan mempertandingkan ganda putri dan ganda campuran. Alasannya, karena ingin sektor ganda Indonesia terus berjaya. Apalagi, belakangan ini sektor ganda putri dan ganda campuran juga sering mengharumkan Indonesia dengan prestasinya,” tegas Candra.

Baca Juga: Hasil Liga 1 2024-2025: PSM Makassar Tundukkan Dewa United di Pekan Ketiga dengan Skor Meyakinkan

Dominasi sektor ganda Indonesia memang begitu kuat. Dari delapan medali emas yang direbut pebulutangkis Indonesia di pentas Olimpiade, lima emas di antaranya dipersembahkan pemain-pemain ganda.

Dimulai pasangan ganda putra Ricky Soebagdja/Rexy Mainaky di Olimpiade Atlanta 1996. Berikutnya Candra Wijaya/Tony Gunawan di Olimpiade Sydney 2000. Lalu Markis Kido/Hendra Setiawan di Olimpiade Beijing 2008. Disusul ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir di Olimpiade Rio de Janeiro 2016. Terakhir ganda putri Greysia Polii/Apriyani Rahayu di Olimpiade Tokyo 2020.

Pada tataran Kejuaraan Dunia, prestasi sektor ganda Indonesia juga mengilap. Untuk ganda putra, terdapat Tjun Tjun/Johan Wahyudi yang berjaya pada 1977 di Malmoe.

Baca Juga: PON XXI Aceh-Sumut 2024 Resmi Akan Dibuka Presiden Joko Widodo

Berikutnya, Christian Hadinata/Ade Chandra (1980 Jakarta), Ricky Soebagdja/Gunawan (1993 Birmingham), Ricky Soebagdja/Rexy Mainaky (1995 Lausanne), Candra Wijaya/Sigit Budiarto (1997 Glasgow), Tony Gunawan/Halim Haryanto (2001 Sevilla), Markis Kido/Hendra Setiawan (2007 Kuala Lumpur), hingga Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan yang tiga kali juara tahun 2013 di Guangzhou, 2015 di Jakarta, dan 2019 di Basel.

Untuk ganda putri, prestasi pasangan Merah-Putih juga berkibar. Retno Kustiyah/Minarni Sudaryanto merebut gelar juara All England 1968. Berikutnya, Verawaty Fadjrin/Imelda Wigoena juga sukses memenangi gelar turnamen tertua dan paling prestisius tersebut pada tahun 1979.

Berikutnya, Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari pun berhasil menyabet medali emas pada Asian Games 2014 di Incheon. Jauh sebelumnya, Retno/Minarni pun menjuarai Asian Games 1962 di Jakarta.

Baca Juga: Bukayo Saka Jadi Pemain Termuda Ketiga yang Cetak 100 Kemenangan

Pasangan andalan ini kembali merebut emas pada Asian Games 1966 di Bangkok. Verawaty/Imelda juga tampil moncer pada Asian Games 1978 di Bangkok dengan kalungan medali emas di lehernya.

Pada ganda campuran, Skuad Merah-Putih memiliki Christian Hadinata/Imelda yang menjadi Juara Dunia 1980 di Jakarta. Setahun sebelumnya, duet ini juga memenangi titel All England.

Berikutnya, Nova Widianto/Liliyana Natsir memenangi titel Juara Dunia 2005 di Anaheim dan 2007 di Kuala Lumpur. Lalu, Tontowi Ahmad/Liliyana mengukir gelar Juara Dunia 2013 di Guangzhou dan 2017 di Glasgow.

Halaman:

Tags

Terkini