Perkembangan Sneakers Sebagai Komoditas Budaya Dunia

Gbonk Anaqy Setyawan, Sportlink News
- Minggu, 2 Februari 2025 | 09:54 WIB
Sneakers model klasik Nike Air Yeezy 2
Sneakers model klasik Nike Air Yeezy 2

SportlinkNews - Sneakers (sepatu kets), yang dulunya merupakan simbol atletis kini telah bertransformasi melampaui fungsi utamanya, menjadi objek komersial dan modis. Dari pakaian olahraga dan gaya jalanan hingga mode catwalk, sneakers telah mentasbihkan diri sebagai komoditas budaya.

Dikutip dari the conversation, pada 2020 pasar sneakers global bernilai sekitar US$79 miliar atau Rp 1.425 triliun. Nilai itu diprediksi akan mengalami peningkatan hingga mencapai US$120 miliar atau sekitar Rp 1.853 triliun pada tahun 2026. Dengan pertumbuhan nilai sebesar itu, maka tidak heran bila sneakers dianggap bisnis besar.

Sebagai komoditas budaya, terkadang penampilan dinilai lebih penting dibandingkan kenyamanan. Padahal dalam memilih sneakers, kenyamanan adalah raja.

Baca Juga: Khusus Wanita, Sepatu Gaya untuk Merayakan Hari Kasih Sayang dengan Valentine Jordan 3

Hal itu yang membuat dalam satu dekade terakhir, ada perubahan besar dalam cara pemakaian sneakers. Menggunakan sneakers di tempat kerja atau pada acara-acara yang lebih formal kini tidak lagi dianggap aneh.

Bahkan pakar etiket Inggris Debrett's telah memberikan persetujuan mereka, menganggap sepatu ini dapat diterima secara sosial untuk acara-acara yang lebih bertema "smart casual".

Dominasi tren athleisure yang terus berlanjut pun berdampak signifikan pada peningkatan penjualan sneakers, seiring dengan mengejar kenyamanan.

Baca Juga: Restoran Ryan Giggs Mendadak Ditutup, Karyawan Nyesak Dipecat Lewat SMS

Hal itu semakin meningkat selama pandemi lalu, karena karantina membuat banyak orang semakin memprioritaskan kenyamanan, dan ini mengakibatkan peningkatan penjualan pakaian santai, pakaian olahraga, dan sepatu datar, seperti sneakers.

Dengan demikian, sneakers telah beranjak dari ceruk pasar khusus menjadi benda yang didambakan sebagai benda yang modis.

Alas kaki kini menjadi kategori penjualan terbesar di pasar barang mewah online dan sneakers telah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pertumbuhan ini.

Merek-merek fashion ternama seperti Gucci hingga Balenciaga menjadi yang terdepan di pasar sepatu sneakers mewah. Pada 2017, Triple S dari Balenciaga menjadi penjual terbesar di pasar sepatu sneaker mewah dan popularitasnya tampaknya tak terbendung.

Baca Juga: Platform Digital LaLiga Melampaui 2 Juta Pengguna Unik per Bulan

Untuk memahami bagaimana sneaker muncul menjadi fenomena alas kaki, penting untuk menelusuri warisannya dari fungsi hingga ikon budaya.

Sepatu olahraga pertama diciptakan oleh The Liverpool Rubber Company, yang didirikan oleh John Boyd Dunlop, pada tahun 1830-an.

Dunlop adalah seorang inovator yang menemukan cara mengikat bagian atas kanvas ke sol karet. Sepatu ini dikenal sebagai sandshoes dan dikenakan oleh orang-orang Victoria saat bersantai di pantai.

Sejarawan Thomas Turner mendefinisikan dekade terakhir abad ke-19 sebagai masa ketika kemajuan industri dan perubahan sosial berpadu dengan antusiasme yang meningkat terhadap kegiatan olahraga, khususnya tenis lapangan.

Baca Juga: Resmi: Inter Merekrut Zalewski dari Roma Tepat Waktu untuk Derby Milan

Hal ini menghasilkan kebutuhan akan jenis alas kaki yang lebih khusus, yang dapat dipenuhi oleh sol karet Dunlop. Dunlop meluncurkan model Green Flash yang kini menjadi ikon pada 1929, saat dipakai oleh legenda tenis Fred Perry di Wimbledon.

Sepatu olahraga penting lainnya di abad ke-20 termasuk Converse All Star, yang dirancang untuk bola basket. Namun, Adidas dan Nike-lah yang berhasil membentuk evolusi sepatu olahraga menjadi gaya.

Nike tersebut diciptakan oleh Bill Bowerman dan Phil Knight pada 1964 sebagai Blue Ribbon Sports dan kemudian berubah menjadi Nike Inc. pada 1971, saat olahraga lari mulai menjadi tren di Amerika Serikat. Sepatu lari original pertama Nike adalah Cortez yang dirancang oleh salah satu pendiri Nike, Bill Bowerman, dan dirilis pada 1972.

Baca Juga: Muka-Muka Baru Hiasi Jajaran Kepengurusan DPP PERBASI Periode 2024-2028

Cortez lah yang kemudian membentuk evolusi sepatu olahraga menjadi gaya. Saat dipakai oleh Tom Hanks dalam film Forrest Gump (1994), Cortez pun mengamankan status budaya sneakers.

Lalu, ada Adidas. Didirikan oleh Adi Dassler di Jerman pada tahun 1924 sebagai "Gebrüder Dassler Schuhfabrik". Pada 1949, perusahaan ini berganti nama menjadi Adidas yang kemudian tumbuh menjadi salah satu sneakers paling dipandang.

Merek ini menciptakan sepatu lari pertama dengan sol kulit lengkap dan paku yang ditempa dengan tangan, yang dikenakan oleh Jessie Owens, pelari track & field Amerika Serikat di Olimpiade Berlin 1936.

Sebagai ikon budaya, sneakers juga tumbuh menciptakan komersialisasi keren. Penelitian oleh sosiolog Yuniya Kawamura tentang sneakers mendefinisikan tiga gelombang munculnya fenomena itu.

Baca Juga: Ole Romeny Tak Sabar Bela Timnas Indonesia, Ingin Persembahkan untuk Sang Nenek

Gelombang pertama pada tahun 1970-an. Dimulai hadirnya budaya sneaker underground dan kemunculan hip-hop. Desain Samba dari Adidas, sebagai contoh utama.

Samba menjadi bagian penting dari Terrace Fashion dalam subkultur penggemar sepak bola. Pada 1986, Run-DMC merilis lagu My Adidas, yang berujung pada kesepakatan sponsor dengan merek tersebut. Semakin mengukuhkan posisi sneakers yang mengakar dalam budaya populer.

Halaman:

Editor: Gbonk Anaqy Setyawan

Sumber: theconversation

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X