Kemudian pada 1984, gelombang kedua fenomena ini muncul saat Nike meluncurkan Air Jordan. Dukungan selebriti dunia membuat komodifikasi sepatu kets menjadi barang status.
Baca Juga: Adidas Perkenalkan Bola Resmi Piala Dunia Antarklub 2025, Terinspirasi Warna Amerika Serikat
Lalu, gelombang ketiga. Era ini ditandai dengan digitalisasi dan pertumbuhan yang dihasilkan dalam pemasaran sneakers dan budaya reseller. Pasar reseller sneakers global bernilai US$6 miliar atau sekitar Rp 8,6 triliun pada 2019 lalu dan diprediksi akan semakin meningkat menjadi US$30 miliar atau Rp 48,9 triliun di 2030.
Semakin banyaknya "sneakerhead" yang mengoleksi dan memperdagangkan sepatu keds, maka sneakers pun menciptakan status kultus. Penghormatan berlebihan kepada sebuah merek tertentu. Seperti edisi terbatas Nike dan Adidas yang selalu diasosiasikan dengan selebriti, bintang hip-hop, atau atlet.
Beberapa model sneakers langka pun menjadi dewa. Bahkan banyak orang yang rela mengantri lama untuk mendapatkan model-model 'klasik' macam Nike Air Yeezy 2 "Red October" dan Air Jordan x 1 Off-White "Chicago" di berbagai pameran.
Sepatu-sepatu tersebut memiliki harga eceran US$190 hingga US$240 atau Rp 2,5 juta hingga Rp 3 juta) dan bisa dijual kembali dengan harga eceran hingga mencapai US$1.695 sampai US$6.118 atau sekitar Rp 21,5 juta hingga Rp 28 juta). Tingginya nilai membuat sneakers kembali menciptakan pasar kultus baru.
Dari olahraga hingga fashion, sepatu sneakers mendominasi pasar konsumen. Namun, meskipun telah diadopsi oleh arus utama, sepatu kets tetap mempertahankan status sebagai ikon budaya.