Namun, ini bukan berarti berlari jarak jauh tanpa risiko. Maraton dapat memicu penyakit jantung yang tersembunyi, terutama penyakit arteri koroner. Contoh tragis terjadi di Inggris, ketika seorang pelari berusia 42 tahun yang mengalami nyeri dada awalnya diyakinkan aman, namun kemudian meninggal akibat serangan jantung. Dalam kasus ini, masalahnya bukan pelepasan troponin akibat olahraga, tetapi penyakit arteri koroner yang tidak terdeteksi sebagai penyebab peningkatan troponin.
Baca Juga: Sikap Marc-Andre Ter Stegen Hengkang Menimbulkan Masalah bagi Barcelona
Perbedaan ini penting. Nyeri dada, sesak napas, atau pingsan selama atau setelah olahraga tidak bisa dianggap sepele hanya karena seseorang tampak bugar. Pada orang dengan gejala, peningkatan troponin biasanya menandakan proses yang berbeda dibandingkan kenaikan sementara setelah maraton pada pelari sehat.
Kematian saat maraton sangat jarang. Studi besar menunjukkan ada sekitar satu kematian per 100.000 pelari, dan risiko ini menurun seiring meningkatnya dukungan medis di lomba. Jika terjadi henti jantung mendadak, biasanya terkait dengan kondisi jantung yang belum terdiagnosis, bukan kerusakan akibat berlari.
Masih ada perdebatan mengenai olahraga ketahanan tingkat sangat tinggi. Meski sebagian besar pelari amatir tidak menunjukkan kerusakan permanen, beberapa penelitian menemukan tanda jaringan parut di jantung yang disebut fibrosis pada atlet yang berlatih dengan volume sangat tinggi selama bertahun-tahun.
Baca Juga: Siapa Miliarder Sepak Bola Tahun 2025: Ronaldo atau Messi?
Pemindaian MRI jantung menunjukkan banyak atlet ketahanan yang lebih tua memiliki area kecil jaringan parut pada otot jantung. Dalam studi Ventoux baru-baru ini dari Mont Ventoux, salah satu tanjakan tersulit Tour de France, peneliti memeriksa 106 pesepeda dan triatlet pria di atas 50 tahun. Hampir setengahnya memiliki jaringan parut, dibandingkan sangat sedikit pada peserta non-atletik.
Jaringan parut ini terkait dengan risiko irama jantung abnormal, termasuk beberapa yang bisa berakibat fatal. Namun masalah serius tetap jarang, dan hasil berbeda antar individu, menunjukkan faktor seperti genetika, intensitas latihan, dan lama berlatih sangat berpengaruh.
Secara keseluruhan, bukti menunjukkan bagi sebagian besar pelari maraton amatir, jantung beradaptasi, bukan menurun. Perubahan sementara setelah lomba dan kenaikan troponin hanya mencerminkan tekanan, bukan cedera.
Baca Juga: Westbrook Terus Menanjak di Daftar Elite NBA, Lampaui Wilkins dan Magic Johnson
Kebugaran bukan berarti kebal terhadap penyakit jantung, dan hasil tes hanya bermakna jika disertai gejala dan pemeriksaan medis. Jantung pelari maraton kuat, tapi tetap perlu pengawasan.
Bagi sebagian besar pelari amatir, fakta ini menenangkan. Jantung beradaptasi dengan maraton, bukan rusak karena maraton. Kenaikan troponin setelah lomba menunjukkan kerja keras, bukan kerusakan, dan studi selama satu dekade membuktikan dengan latihan tepat, jantung tetap sehat.
Hanya saja, kebugaran bukan jaminan. Nyeri dada, sesak napas tak biasa, atau pingsan saat berolahraga harus mendapat perhatian medis serius. Jantung pelari maraton tangguh tetapi tetap harus diawasi dengan cermat.
Yuk, gabung di channel whatsapp sportlinknews.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru. Klik di sini (JOIN)
Artikel Terkait
Apa yang Mendorong Tubuh Pelari Maraton untuk Sukses?
Mengapa Asupan Air Wajib Bagi Pelari Maraton?
China Gelar Maraton Pertama di Dunia yang Menampilkan Robot Humanoid Berlari Bersama Manusia
Mengapa Protein Penting untuk Pemulihan Maraton?
Fasitis Plantar pada Pelari Maraton