Kritik Sepp Blatter terhadap FIFA: Dominasi Arab Saudi dan Masa Depan Sepak Bola Dunia

Muhammad Zaki Fajrul Haq, Sportlink News
- Minggu, 13 Juli 2025 | 18:30 WIB
Sepp Blatter mengkritik FIFA pimpinan Gianni Infantino yang dinilai terlalu tunduk terhadap keinginan Arab Saudi selama ini.
Sepp Blatter mengkritik FIFA pimpinan Gianni Infantino yang dinilai terlalu tunduk terhadap keinginan Arab Saudi selama ini.

Bahkan, Kongres FIFA pernah tertunda hanya karena Infantino terlambat datang akibat mengunjungi Arab Saudi dan Qatar bersama Presiden AS Donald Trump — menunjukkan besarnya pengaruh kawasan tersebut bagi Infantino.

Kritik ini datang dari Blatter yang juga punya rekam jejak kontroversial selama menjabat sebagai Presiden FIFA dari 1998 hingga 2015.

Baca Juga: Pertama di Lapangan Rumput, Iga Swiatek Hancurkan Amanda Anisimova di Final Wimbledon

Ia sempat dikenai larangan beraktivitas di sepak bola selama delapan tahun akibat dugaan korupsi, yang kemudian dikurangi menjadi enam tahun.

Meski demikian, Blatter pada 2022 secara terbuka menyatakan bahwa pemberian hak tuan rumah Piala Dunia 2022 kepada Qatar adalah “sebuah kesalahan”.

Pot Drawing Kualifikasi Piala Dunia 2026 Putaran Keempat:

Baca Juga: Final Piala Dunia Antarklub: Kapten Chelsea dan PSG Haus Gelar

  • Pot 1: Qatar (peringkat FIFA 53), Arab Saudi (58)
  • Pot 2: Irak (59), Uni Emirat Arab (66)
  • Pot 3: Oman (79), Indonesia (118)

Undian akan membagi enam tim ini ke dalam dua grup. Hanya juara grup yang akan langsung lolos ke Piala Dunia 2026.

Format yang ketat ini menambah bobot pada dugaan bahwa FIFA sudah memiliki “jalur mulus” bagi negara tertentu.

Baca Juga: Pap Guardiola dan Gadis 24 Tahun Bergoyang di Konser Oasis

Kritik Sepp Blatter membuka diskusi yang lebih luas tentang integritas dan masa depan sepak bola global.

Ketika kekuatan uang semakin mendominasi, keputusan-keputusan penting pun tampak lebih dipengaruhi oleh kepentingan politik dan ekonomi ketimbang semangat kompetisi olahraga.

Untuk Indonesia dan negara-negara lain yang menuntut keadilan, perjuangan baru dimulai — tidak hanya di lapangan, tetapi juga dalam menjaga independensi sepak bola dari tekanan kekuatan besar di luar arena pertandingan.

Halaman:

Editor: Muhammad Zaki Fajrul Haq

Sumber: nytimes

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Inggris 6 Prancis 4: Pertandingan Paling Gila

Minggu, 19 Juli 2026 | 06:33 WIB
X