Sebagian besar pertandingan akan berlangsung pada dini hari waktu Beijing, yang secara langsung memengaruhi jumlah penonton dan pendapatan iklan.
Merek-merek besar di China juga memperketat pengeluaran mereka, membuat para penyiar ragu untuk mengambil risiko menginvestasikan sejumlah besar uang dengan pengembalian investasi yang tidak pasti.
Belum lagi, fakta bahwa banyak penggemar sepak bola di China tidak terlalu antusias terhadap olahraga ini juga menjadi alasan utama.
Baca Juga: Playoff IBL 2026 Hadir dengan Tekanan dan Persaingan yang Lebih Ganas
Sejarah menunjukkan bahwa FIFA biasanya memegang kendali dalam negosiasi karena eksklusivitas Piala Dunia.
Namun, dengan pasar yang unik seperti China, FIFA mungkin akan mengalami kerugian total jika menolak untuk berkompromi.
Saat ini, penggemar sepak bola China menghadapi kekhawatiran karena tidak dapat menonton Piala Dunia secara gratis di saluran siaran tradisional.
Jika kedua pihak tidak dapat menemukan titik temu di "menit terakhir," ini akan menjadi Piala Dunia pertama yang absen dari pasar terbesar di Asia.
Baca Juga: Lolos ke Eropa, Cesc Fabregas Sebut Como Hanya Tim Sederhana
Mitra-mitra India juga memberikan tekanan pada FIFA.
Hal yang sama terjadi di India. FIFA dan saluran televisi di negara Asia Selatan tersebut memiliki perbedaan harga yang sangat besar.
Jika mereka tidak dapat menjual ke India, FIFA akan mengalami kekalahan yang menyakitkan. Menurut statistik, India menyumbang 49,8% dari penonton daring pertandingan Piala Dunia 2022.
Gairah penggemar India terhadap Piala Dunia sangat besar, dan FIFA tentu tidak ingin kehilangan sumber pendapatan utama ini.
Yuk, gabung di channel whatsapp sportlinknews.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru. Klik di sini (JOIN)
Artikel Terkait
Jepang Jadi Satu-satunya Wakil Asia Penerima Hibah FIFA Global Citizen Education Fund 2026
Arsenal Berpeluang 87 Persen untuk Memenangkan Liga Premier
Conte: Napoli Tidak Pantas Kalah, tapi Ini Bukan Kebetulan
Argentina Umumkan Skuad Sementara Piala Dunia: Akhir Bagi Dybala
Bos Aston Villa Jadi Korban Pemerasan Seksual, Diketok Senilai Rp 17,5 Triliun