Grup L Piala Dunia: Kesempatan Inggris Lepas Label Tim Hampir Juara

Gbonk Anaqy Setyawan, Sportlink News
- Rabu, 10 Juni 2026 | 20:07 WIB
Harry Kane sedang memburu Sepatu Emas Piala Dunia keduanya setelah meraih yang pertama pada tahun 2018 berkat enam gol yang dicetaknya di Rusia.
Harry Kane sedang memburu Sepatu Emas Piala Dunia keduanya setelah meraih yang pertama pada tahun 2018 berkat enam gol yang dicetaknya di Rusia.

Ketajamannya, ditambah kreativitas Bellingham dan kecepatan Saka, membuat lini serang Inggris menjadi salah satu yang paling ditakuti di turnamen ini.

Baca Juga: Sampul Digital | Kylian Mbappe Sudah Memikirkan Momen Selanjutnya

Meski begitu, Tuchel berusaha meredam euforia. Ia menolak menyebut Inggris sebagai favorit juara. Menurutnya, Spanyol, Prancis, Argentina, Brasil, dan Portugal tetap menjadi kandidat utama untuk mengangkat trofi.

Sebaliknya, ia lebih suka menyebut Inggris sebagai "penantang serius" yang siap melangkah sejauh mungkin.

Pendekatan itu sejalan dengan upayanya menjaga pemain tetap rileks menghadapi tekanan besar.

Selama persiapan di Amerika Serikat, para pemain diberi kebebasan lebih banyak untuk bertemu keluarga, menghabiskan waktu luang, hingga menikmati suasana kota tanpa tekanan berlebihan dari lingkungan tim.

Baca Juga: Memphis Depay Hanya Main 49 Menit dalam Dua Pertandingan Pemanasan Belanda

Tuchel memahami bahwa tekanan akan datang dengan sendirinya saat turnamen dimulai. Tugasnya adalah memastikan para pemain memasuki lapangan dengan kepala yang jernih dan keyakinan penuh terhadap kemampuan mereka.

Bagi Inggris, Piala Dunia 2026 bukan sekadar kesempatan untuk menambah koleksi trofi.

Piala Dunia 2026 menjadi kesempatan besar bagi Inggris untuk mengakhiri penantian gelar dunia yang sudah berlangsung selama 60 tahun.

Selain itu, The Three Lions juga berpeluang melepaskan label "hampir juara" sekaligus membuktikan bahwa generasi emas mereka mampu menorehkan sejarah baru.

Baca Juga: Juara Bertahan Rachel/Febi Awali Misi Pertahankan Gelar dengan Kemenangan

Dengan Thomas Tuchel di pinggir lapangan dan skuad bertabur bintang yang sedang berada di masa terbaiknya, Inggris memiliki alasan kuat untuk percaya bahwa impian lama itu akhirnya bisa menjadi kenyataan.

Gaya Bermain Inggris

Di bawah arahan Thomas Tuchel, Timnas Inggris mengalami transformasi yang signifikan.

Inggris tidak lagi hanya mengandalkan kualitas individu para pemain bintangnya, tetapi juga kekuatan kolektif yang membuat permainan mereka lebih efektif dalam menyerang maupun bertahan.

Perubahan paling mencolok terlihat dari kemampuan Inggris mengontrol tempo pertandingan, melakukan tekanan secara terorganisasi, serta mengeksekusi transisi dengan kecepatan tinggi.

Baca Juga: Hanya Sabar/Reza Bertahan, Dua Ganda Putra Indonesia Tersingkir

Di bawah Tuchel, permainan Inggris menjadi lebih cair dan adaptif terhadap berbagai situasi di lapangan. Mereka mampu mengubah pendekatan permainan dengan cepat tanpa kehilangan keseimbangan antarlini.

Secara taktis, pelatih asal Jerman tersebut umumnya menerapkan formasi 4-2-3-1 saat bertahan. Namun, ketika menguasai bola, struktur tim dapat berubah secara dinamis menjadi 3-2-5 atau bahkan 3-1-6.

Transformasi ini memungkinkan Inggris menempatkan lebih banyak pemain di area sepertiga akhir lapangan lawan sehingga tekanan yang diberikan menjadi lebih besar dan berkelanjutan.

Filosofi permainan Tuchel juga sangat dipengaruhi konsep gegenpressing, yakni upaya merebut kembali bola sesegera mungkin setelah kehilangan penguasaan.

Baca Juga: Indonesia Jaga Asa di AVC Cup 2026 Usai Kalahkan Hong Kong

Para pemain Inggris didorong untuk melakukan tekanan tinggi di wilayah pertahanan lawan sehingga lawan tidak memiliki cukup waktu untuk membangun serangan.

Strategi tersebut membuat Inggris mampu mendominasi penguasaan bola sekaligus mempertahankan intensitas permainan selama 90 menit.

Di lini tengah, peran Declan Rice menjadi sangat penting. Kemampuannya dalam merebut bola dan menjaga keseimbangan permainan menjadikannya jangkar utama tim.

Halaman:

Editor: Gbonk Anaqy Setyawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X