Pemain sepak bola Zahra Azadpour, 27 tahun, termasuk di antara mereka yang dibantai oleh Garda Revolusi Iran yang haus darah.
Bintang tersebut bermain untuk tim Liga Wanita Iran Mehregan Pardis dan telah bergabung dengan kamp pelatihan tim nasional.
Demonstrasi tersebut memicu kemarahan Donald Trump terhadap rezim tersebut, yang kini telah berubah menjadi konflik besar di Timur Tengah.
Baca Juga: Tanpa Hilgers dan Struick, Pengamat Nilai Daftar Pemain Timnas Indonesia Tetap Objektif
Perempuan di Iran telah menghadapi pembalasan mematikan di masa lalu karena protes mereka.
Kematian Mahsa Amini menjerumuskan Republik Islam ke dalam aib setelah gadis muda itu diduga dipukuli, ditangkap, dan dibiarkan koma oleh polisi moral rezim.
Dia dilaporkan diserang karena tidak mengikuti hukum hijab yang ketat di negara itu.