SportlinkNews - Tidak banyak tim yang datang ke Piala Dunia 2026 dengan beban ekspektasi sebesar Inggris.
Sebagai negara yang mengklaim diri sebagai rumah sepak bola modern, The Three Lions hanya memiliki satu gelar Piala Dunia dalam sejarah mereka, yakni saat menjadi juara di kandang sendiri pada 1966.
Sejak saat itu, generasi demi generasi pemain bintang datang dan pergi, tetapi trofi yang sama tak pernah kembali ke London. Kini, enam dekade setelah kejayaan tersebut, harapan baru kembali menyala.
Inggris datang ke Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko dengan kombinasi yang jarang mereka miliki sebelumnya, yakni pelatih elite yang terbukti sukses di level tertinggi serta generasi pemain yang sedang memasuki puncak karier.
Baca Juga: 17 Pemain Manchester City akan Berjibaku di Piala Dunia FIFA 2026 di Benua Amerika
Di bawah arahan Thomas Tuchel, impian untuk menambahkan bintang kedua di atas lambang Three Lions terasa lebih realistis dibandingkan beberapa edisi sebelumnya.
Perjalanan menuju Piala Dunia 2026 menjadi bukti perubahan yang terjadi di tubuh tim nasional Inggris.
Setelah kekalahan menyakitkan dari Spanyol pada final Euro 2024, Federasi Sepak Bola Inggris (FA) memutuskan mengakhiri era Gareth Southgate dan menunjuk Tuchel sebagai nakhoda baru.
Keputusan itu sempat memunculkan perdebatan karena Tuchel menjadi pelatih asing ketiga yang menangani Inggris. Namun, mantan pelatih Chelsea dan Bayern Muenchen tersebut segera membungkam keraguan.
Baca Juga: Leeds United Luncurkan Jersey Tandang Terbarunya untuk Musim 2026/27
Di babak kualifikasi, Inggris tampil nyaris sempurna. Mereka memenangkan seluruh delapan pertandingan, mencetak 22 gol, dan yang paling mengesankan tidak kebobolan satu gol pun.
Harry Kane menjadi ujung tombak yang mematikan dengan delapan gol, sementara para pemain muda seperti Jude Bellingham, Bukayo Saka, Cole Palmer, dan Morgan Rogers menunjukkan bahwa masa depan Inggris berada di tangan yang tepat.
Berbeda dengan era sebelumnya yang kerap dianggap terlalu berhati-hati, Inggris kini tampil lebih agresif dan langsung.
Tuchel ingin timnya bermain dengan keberanian, menekan lawan sejak awal, serta mendominasi pertandingan melalui intensitas tinggi yang menjadi ciri khas sepak bola Premier League.
Baca Juga: Striker Jebolan Liverpool Divock Origi Resmi Gantung Sepatu
"Kami bermain dengan semangat dan kegembiraan untuk menang, bukan dengan rasa takut akan kekalahan," kata Tuchel ketika pertama kali mengambil alih tim pada 2025.
Pernyataan tersebut menjadi fondasi filosofi yang terus dibangun hingga menjelang Piala Dunia.
Tuchel berulang kali menegaskan bahwa salah satu tugas terbesarnya adalah menghilangkan rasa takut yang selama ini dianggap menghantui tim Inggris di turnamen besar.
Skuad yang dibawanya ke Amerika Utara juga mencerminkan pemikiran tersebut. Tuchel tidak sekadar memilih pemain paling berbakat, melainkan pemain yang dinilainya mampu menjalankan peran spesifik dalam sistem permainan.
Baca Juga: Raul Jimenez Tinggalkan Fulham dan Bergabung dengan Wolverhampton Wanderers
Pendekatan itu sempat menuai kritik di Inggris, tetapi hasil di lapangan sejauh ini membuktikan efektivitasnya.
Meski demikian, perjalanan menuju gelar tidak akan mudah. Inggris berada di Grup L bersama Kroasia, Ghana, dan Panama. Jika mampu menjadi juara grup seperti yang diprediksi banyak pihak, tantangan berat diperkirakan menanti di fase gugur.
Menurut simulasi superkomputer Opta, Inggris berpeluang menghadapi Senegal di babak 32 besar, Meksiko di babak 16 besar, Brasil di perempat final, Argentina di semifinal, dan Spanyol di partai puncak.
Jalur tersebut menjadi salah satu yang paling sulit di antara kandidat juara lainnya.
Baca Juga: Ze Gomes Dipercaya Meracik Skuat Madura United untuk Super League Musim 2026/27
Namun, kekuatan Inggris memang tidak bisa dipandang sebelah mata. Sebagian besar pemain mereka berkompetisi di Premier League, yang dianggap sebagai liga terbaik dunia.
Kedalaman skuad menjadi salah satu keunggulan utama. Ketika pemain inti mengalami penurunan performa atau cedera, Tuchel masih memiliki banyak opsi berkualitas dari bangku cadangan.
Kehadiran Harry Kane tetap menjadi faktor pembeda. Statistik menunjukkan bahwa sejak Piala Dunia 2022, tingkat kemenangan Inggris jauh lebih tinggi saat penyerang Bayern Muenchen tersebut berada di lapangan.