SportlinkNews - Pertandingan perdana Grup L Piala Dunia 2026 akan langsung menyajikan laga sengit antara tim nasional Inggris melawan Kroasia. Fokus utama dalam pertarungan tersebut tertuju pada bentrokan strategi lini tengah yang dihuni oleh para pemain sarat pengalaman global.
Bentrok antara Inggris dengan Kroasia digelar di Dallas Stadium. Pertemuan krusial kedua tim elite Eropa tersebut dijadwalkan berlangsung pada Kamis (18/6) dini hari WIB.
Gelandang senior Inggris Jordan Henderson secara terbuka memberikan pandangannya mengenai ancaman nyata yang datang dari motor serangan lawan. Sosok jenderal lapangan tengah milik Kroasia, Luka Modric, diakui menjadi pemain yang paling diwaspadai.
Baca Juga: Kubo Cedera Saat Lawan Belanda, Jepang Menanti Hasil Pemeriksaan Medis
Meskipun saat ini telah menginjak usia 40 tahun, performa Modric dinilai sama sekali belum menunjukkan tanda-tanda penurunan yang signifikan. Pemain veteran tersebut bahkan masih menjadi pilar andalan bagi raksasa Italia AC Milan setelah menyelesaikan periodenya bersama Real Madrid.
"Saya rasa kariernya sudah berbicara sendiri. Dia pemain kelas dunia papan atas, sangat sulit untuk dihadapi, mudah-mudahan dia tidak tampil sebaik yang kita tahu," kata Henderson yang dikutip dari Reuters.
"Saya belum pernah melihatnya bermain buruk, jadi tentu saja ini akan menjadi ujian yang sulit bagi siapa pun yang bermain di lini tengah," Henderson menambahkan.
Henderson saat ini telah menginjak usia 35 tahun dalam karier sepak bola profesionalnya di level internasional. Kendati tidak lagi muda, ia tetap mendapatkan tempat utama dalam skema taktis yang diusung oleh tim kepelatihan Inggris.
Manajer Inggris Thomas Tuchel secara konsisten menunjukkan kepercayaan besar terhadap kapasitas kepemimpinan Henderson. Kehadiran mantan kapten Liverpool ini dinilai sangat krusial untuk menjaga keseimbangan permainan tim di turnamen sebesar Piala Dunia.
Pengalaman empiris yang dimiliki oleh Henderson diharapkan mampu menjadi penyeimbang bagi agresi para pemain muda Inggris yang mendominasi skuad. Motivasi personal yang tinggi juga terpancar dari komitmen sang pemain dalam menatap setiap laga di fase grup.
Baca Juga: Carlo Ancelotti Akui Skuad Brasil Sempat Cemas dan Gugup
"Di saat Anda seumuran saya atau berusia 25 tahun, Anda tidak pernah tahu kapan yang setelahnya akan terjadi, jujur saja, itulah mengapa Anda harus memperlakukan setiap kesempatan seperti yang terakhir," ungkapnya.
Laga ini diprediksi menjadi indikator penting bagi kedua negara untuk mengamankan tiket menuju fase gugur. Kemenangan di partai pembuka akan mempermudah langkah mereka dalam mengarungi sisa kompetisi di Grup L.