SportlinkNews - Komite Disiplin FIFA memulihkan nama baik wasit asal Australia, Shaun Evans, dari segala tuduhan pelanggaran etis terkait dugaan tindakan rasisme di Piala Dunia 2026. Keputusan final tersebut diambil setelah otoritas tertinggi sepak bola internasional itu menyelesaikan seluruh rangkaian investigasi.
Kasus sensitif ini sempat menjadi sorotan publik global setelah Evans dicurigai memperlihatkan gestur jari yang identik dengan simbol kelompok supremasi tertentu. Namun, hasil peninjauan mendalam terhadap seluruh rekaman di ruang kontrol memastikan tidak ada bukti otentik yang mendukung dugaan pelanggaran tersebut.
"Komite Disiplin independen FIFA dapat memastikan bahwa, setelah menyelidiki masalah yang melibatkan asisten wasit video Shaun Evans, tidak ditemukan bukti pelanggaran terhadap Kode Disiplin FIFA. Komite Disiplin juga telah mencatat pernyataan dari saudara Evans," kata Komite Disiplin FIFA.
Baca Juga: Argentina vs Aljazair: Hening! Sang Juara Siap Beraksi, Messi Berburu Rekor
Sebelum hasil sidang independen ini dipublikasikan secara terbuka, Evans telah bergerak cepat dengan memberikan pembelaan. Juru adil berusia 38 tahun tersebut menegaskan posisi tangannya yang tertangkap kamera murni merupakan gerak refleks fisik yang tidak disengaja.
"Satu-satunya penjelasan yang bisa saya berikan adalah bahwa gerakan itu merupakan kedutan yang tidak disengaja dan tidak disadari. Dan saya tidak menyadari saya telah melakukannya saat itu. Gambar-gambar yang diambil kemudian selama pertandingan menunjukkan saya mengulangi gerakan ini berkali-kali sambil memegang pulpen di antara jari-jari saya," ucap Evans.
Pernyataan dari pembelaan diri Evans tersebut sekaligus diperkuat oleh fakta adanya kebiasaan motorik yang sering dilakukan saat memimpin jalannya laga. Bukti visual tambahan memperlihatkan tindakan serupa terjadi berulang kali secara natural tanpa motif ideologis apa pun.
Baca Juga: Ribuan Warga Amerika Keturunan Iran Unjuk Rasa di Luar Stadion SoFi
Evans juga secara terbuka mengungkapkan rasa kekecewaannya terhadap bias pemberitaan di media massa yang cenderung menghakimi integritas pribadinya secara sepihak. Meski demikian, ia tetap berjiwa besar dengan menyampaikan rasa penyesalan atas kesalahpahaman masif yang sempat menimbulkan kegaduhan di ruang publik.
"Liputan media setelah insiden ini sama sekali tidak mencerminkan siapa saya. Tentu saja, saya memahami bagaimana gestur tersebut diinterpretasikan dan saya menyesalinya, namun saya ingin sangat jelas dan tegas menyatakan bahwa saya tidak secara sengaja atau dengan niat membuat simbol tangan yang disarankan," ujarnya.
"Menjadi wasit di Piala Dunia adalah kehormatan terbesar dalam karier saya dan saya menantikan untuk mendukung rekan-rekan saya selama sisa turnamen," ia melanjutkan.
Baca Juga: Jadwal Pertandingan Piala Dunia 2026: Argentina dan Prancis Main Besok
Komitmen profesionalitas yang ditunjukkan Evans tersebut juga menegaskan fokus utamanya yang kini telah beralih untuk menuntaskan sisa tugas di turnamen akbar empat tahunan ini. Adapun awal mula polemik ini diketahui terjadi pada pertandingan pembuka babak penyisihan di Grup E yang mempertemukan Jerman dan Curacao.
Laga yang digelar di Houston Stadium pada Senin (15/6) dini hari WIB itu mendadak viral ketika kamera menyiarkan langsung aktivitas para petugas Video Assistant Referee (VAR). Sorotan lensa menangkap momen spesifik saat tangan Evans membentuk formasi jemari menyerupai simbol lingkaran ke arah bawah.