SportlinkNews - Aksi kekerasan di lapangan hijau kembali mencoreng wajah kompetisi kelompok umur sepak bola nasional baru-baru ini. Sorotan tajam kini tertuju pada insiden tendangan brutal yang melibatkan penggawa Bhayangkara FC U-20, Fadly Alberto, dalam ajang Elite Pro Academy (EPA) U-20.
Kejadian yang berlangsung di Stadion Citarum, Semarang tersebut memicu reaksi keras dari berbagai pihak. Salah satu tokoh yang memberikan perhatian serius adalah juru taktik Persija Jakarta, Mauricio Souza, yang menyayangkan peristiwa tersebut.
Fadly tertangkap kamera melakukan gerakan berbahaya menyerupai tendangan kungfu terhadap pemain Dewa United U-20, Rakha Nurkholis. Tindakan tidak terpuji itu terjadi saat pertandingan sedang berlangsung dalam tensi yang cukup tinggi.
Baca Juga: Laga Spesial, Moussa Sidibe Siap Hadapi Persis Solo Klub Pertamanya di Indonesia
Meski pelaku telah menyatakan penyesalannya secara publik, perbincangan mengenai sanksi tetap menjadi topik hangat. Fadly mengaku siap mempertanggungjawabkan perbuatannya dan menerima segala keputusan yang akan dijatuhkan oleh komisi disiplin.
Bagi Mauricio Souza, insiden semacam itu merupakan noda hitam yang seharusnya tidak memiliki tempat dalam pembinaan pemain muda. Kesedihan mendalam dirasakannya karena nilai-nilai dasar sepak bola seolah diabaikan begitu saja dalam pertandingan tersebut.
"Tentang (insiden di pertandingan) Dewa United U-20 lawan Bhayangkara, saya sedih sekali terjadi hal seperti itu," kata Souza.
Baca Juga: Jadwal Pertandingan Super League 2025/26, Duel PSIM Vs Persija Buka Laga Pekan ke-29
Souza mendesak otoritas terkait untuk tidak ragu dalam memberikan hukuman yang memiliki efek jera yang sangat kuat. Penegakan aturan yang tegas dianggap sebagai satu-satunya cara untuk memutus rantai kekerasan antarpemain di masa depan.
"Saya pikir harus ada denda (sanksi) serius untuk situasi seperti itu," ujarnya.
Pelatih asal Brasil tersebut juga menepis argumen yang mencoba mewajarkan perilaku agresif dengan alasan usia pemain yang masih muda. Menurut pandangannya, kategori usia di bawah 20 tahun sudah masuk dalam fase menuju profesionalisme yang matang.
Baca Juga: Maverick Vinales Absen dari MotoGP Spanyol di Jerez, Fokus Pemulihan Cedera
Setiap individu yang bermain di level tersebut dinilai sudah memiliki kesadaran penuh akan dampak dari setiap tindakan fisik mereka. Risiko cedera permanen akibat kontak fisik yang disengaja menjadi perhatian utama yang ia sampaikan kepada awak media.
"Saya pikir tidak ada alasan (umur), pemain U-20 itu bukan anak kecil. Mereka sudah tahu apa yang mereka lakukan. Dan sebenarnya sangat tidak baik kalau ada perkelahian seperti itu, bisa saja ada yang terluka dengan serius," ucapnya.
Artikel Terkait
Kekerasan di EPA U-20, Dewa United Tempuh Jalur Hukum
PSSI Desak Komdis Jatuhi Sanksi Berat Pelaku Tendangan Kungfu di EPA U-20
Nova Arianto Kecam Aksi Tendangan Kungfu di EPA U-20
Imbas Tendangan Kungfu, Fadly Alberto Didepak dari Timnas Indonesia U-20
Sesali Tendangan Kungfu, Fadly Alberto Minta Maaf dan Siap Terima Sanksi