olimpik

Erick Thohir Fokus Selesaikan Dualisme Organisasi Olahraga, Atlet Tak Boleh Jadi Korban

Selasa, 23 September 2025 | 21:31 WIB
Menpora, Erick Thohir dalam jumpa pers di Media Center Kemenpora, Selasa, 23 September, didampingi oleh Wamenpora Taufik Hidayat dan Sesmenpora Gunawan Suswantoro menjelaskan terkait dualisme cabor. (KEMENPORA)

SportlinkNews - Setelah mencabut Permenpora Nomor 14 Tahun 2025 dan melakukan deregulasi terhadap 191 Peraturan Menteri, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir melangkah ke tahap berikutnya.

Fokusnya kini adalah menyelesaikan persoalan dualisme kepengurusan di sejumlah cabang olahraga.

Ia mengingatkan bahwa penyelesaian konflik dualisme kepengurusan di sejumlah cabang olahraga tidak boleh mengorbankan prestasi atlet.

Pemerintah, kata dia, akan mengawasi prosesnya, tetapi mekanisme teknis tetap menjadi kewenangan Komite Olimpiade Indonesia (KOI) dan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI).

Baca Juga: Timnas Basket Indonesia untuk SEA Games 2025 Thailand Bakal Digembleng dii Australia

"Kita ada KOI sama KONI yang mekanismenya masing-masing punya tupoksi, hak, dan kewajibannya. Baik KOI maupun KONI harus membuka pintu komunikasi dengan tujuan yang sama, yakni melindungi dan menjaga prestasi atlet," kata Erick dalam jumpa pers di Kemenpora, Senayan, Jakarta, Selasa, 23 September 2025. 

Musyawarah mufakat dinilainya menjadi jalan terbaik. Tetap harus ada landasannya, tetapi bukan berarti Undang-Undang itu, ujarnya, sebagai alat untuk menggebuk. 

"Nah, musyawarah dan mufakat itu yang didahulukan, baru landasan hukumnya dijalankan. Kita harus bicara komunikasi, kemarin saya sudah ke KOI, besok saya akan ke KONI juga berbicara hal yang sama," tegas Erick. 

Baca Juga: Mental Bertanding 10 Pemain Persita Teruji, Bikin Frustasi Persijap di Laga Pekan Keenam Super League

"Kalau saya sebagai keluarga besar olahraga, mereka menutup pintu, ah berarti ada yang salah. Orang kami saja di Kemenpora berintrospeksi diri hari ini, nah, kenapa mereka (cabor-cabor) tidak mau itu? Berarti kan ada yang salah," tukas Erick menambahkan lagi. 

Bersama dengan KOI dan KONI, pihaknya mengaku nanti akan melihat apa payung hukumnya, dan kenapa terjadi dualisme. Ada tidak aturan yang membataskan Ketua Umum terpilih berapa kali. 

"Pasti, kita semua mesti introspeksi. Kan tidak mungkin, seseorang menjadi Ketua Umum seumur hidup. Menurut saya jauh dari nilai-nilai sportivitas, semua ada batasannya," ungkap Erick

Baca Juga: Catatan Penting Duel Borneo FC vs Persis Solo, Kerja Keras yang Tidak Mengkhianati Hasil

"Yang namanya kekuasaan itu harus jadi amanah. Bukan dibalik, kekuasaan dipakai untuk melakukan tekanan," tambahnya.  

Erick kembali mengingatkan pesan dari Presiden, bahwa evaluasi dan transformasi di olahraga ini harus total. Hal itu yang ditegaskannya harus menjadi fokus utama bagi semua stakeholder olahraga. 

"Bisa menselaraskan, meninggalkan semua ego sektoral, meninggalkan kepentingan. Kita dahulukan yang tadi, yang namanya atlet dan prestasi di depan. Kita sebagai supporting system, itu yang harus kita lakukan,"  imbuh mantan Menteri BUMN tersebut. 

Baca Juga: Catatan Penting Duel Borneo FC vs Persis Solo, Kerja Keras yang Tidak Mengkhianati Hasil

Sebenarnya, penyelesaian konflik sudah jelas ada di Undang Undang Nomor 11 Tahun 2022. Di dalamnya menyebutkan Federasi Nasional (NF) wajib menjadi anggota Federasi Internasional (IF) khusus olahraga prestasi.

Sedangkan untuk permasalahan konflik organisasi harus diselesaikan melalui Badan Arbitrase Keolahragaan Indonesia (BAKI) yang merupakan satu-satunya badan arbitrase olahraga yang diakui Kemenpora. 

Seperti diketahui bahwa ada beberapa cabang olahraga yang mengalami dualisme berkepanjangan saat ini, bahkan ada yang hingga puluhan tahun tak terpecahkan.

Baca Juga: Jelang Putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia: Ada Upaya Gagalkan Timnas Kita

Beberapa di antaranya adalah cabang tenis meja yang terbelah menjadi tiga federasi dan anggar yang terpecah menjadi dua kepengurusan.

Sementara itu, di cabang tinju amatir terdapat dualisme antara Pertina pimpinan Hillary Barigitta Lasut dan Perbati yang dipimpin Ray Zulham Farras Nugraha.

Dari tiga cabang olahraga tersebut, hanya sebagian yang resmi menjadi anggota Federasi Internasional (IF) dan NOC Indonesia.

Mereka adalah IPL yang diterima Federasi Tenis Meja Internasional (ITTF), PB IKASI pimpinan Amir Yanto yang terdaftar di Federasi Anggar Internasional (FIE), serta PERBATI yang menjadi anggota World Boxing.

Tags

Terkini