Heni hanya butuh waktu satu tahun untuk bisa berbahasa isyarat. Hari-harinya dihabiskan waktu bersama anak-anak tuna rungu.
"Saya juga fokus belajar sendiri perlahan-lahan. Pada tahun 2009 saya sudah bisa komunikasi maksimal bersama anak-anak tunarungu," ungkap Heni.
Ibu dua anak ini mengaku tidak mudah belajar bahasa tunurungu. Tapi, berkat tekad dan kemauannya yang keras, ia pun akhirnya mampu berkomunikasi dengan bahasa isyarat.
"Saya mencoba mengabdikan diri bersama anak-anak luar biasa itu," tandas Heni yang menyukai olahraga voli dan bulu tangkis sejak kecil.
Baca Juga: Tegar Januar Berniat Umrohkan Kedua Orang Tua dari Emas Karate
Sejak bersama anak-anak tunarungu, pada tahun 2016 ia dipercaya menjadi interpenter di kegiatan dinas pemerintahan.
Ia juga menjadi langganan Juru Bahasa Isyarat di Dinas Pendidikan Aceh, kegiatan Gubernur Aceh, Sekda, Polda, Pengadilan, Kominfo, RS Zainal Abidin dan Meuraxa, D3P, Bank Indonesia di Aceh, dan masyarakat yang membutuhkan.
Kepiawaian kedua tangannya mengolah bahasa isyarat pun mengangkat kariernya sebagai Kepala Sekolah Luar Biasa Yayasan Pendidikan Disabilitas Insani (YAPDI) Banda Aceh.
"Alhamdulillah saya menjadi seperti ini. Semoga kedepan bisa terus berkarya demi nusa dan bangsa," pungkasnya.
Artikel Terkait
Cerita Manis Annisa Tuntaskan Dendam di Matras Karate Berbuah Emas
Real Madrid Terbitkan Aturan Baru Setelah Pernyataan Kontroversial Vinicius Junior
Fans AC Milan Marah Besar Usai Kalah dari Liverpool di Liga Champions 2024-2025
Cristiano Ronaldo akan Dilatih Stefano Pioli Usai Al Nassr Pecat Luis Castro
Sah, Naturalisasi Mees Hilgers dan Eliano Reijnders Disetujui DPR, Selangkah Lagi Debut Bareng Timnas