Mereka juga tak dapat menghindari para pemain yang kemudian jadi bintang dunia tidak berdarah Belanda sama sekali.
Di awali oleh Simon Tahamata (Maluku, Indonesia), awal 1970an dinaturalisasi, KNVB melanjutkan dengan merekrut anak-anak dari negeri bekas jajahan, Suriname.
Muncullah bintang besar Ruud Gullit, disusul Frank Rijkaard, Clerence Seedorf, Aaron Winter, Pierre Hooijdonk, Edgar Davis, Patrick Kluivert, dan banyak lainnya.
Baca Juga: Timnas U-23 Taklukkan Australia, Erick Thohir: Itu Permainan yang Indonesia Mau
Jadi, negeri yang pernah menjadi juara dunia, Eropa, dan Amerika saja tidak tabu menggunakan pemain yang bukan 100 persen warganya, mengapa kita kok 'direcoki' untuk diperkuat oleh mereka yang punya darah Indonesia?
Jika dulu, 2009, saat, saya, sahabat Yesayas Oktovianus (Kompas), Reva Deddy Utama (antv), dan Erwiantoro (Cocomeo), ditugaskan oleh PSSI untuk membuka wacana naturalisasi ke Belanda, bersepakat hanya jalan pintas, sekarang saya sebagai pribadi justru mengukuhkan naturalisasi adalah jalan terbaik.
Tentu ada yang tidak sependapat, saya pun tidak keberatan. Toh setiap kita punya cara pandang masing-masing. Saya tetap menghormati mereka, sepanjang mereka tidak punya niat buruk di dalamnya.
Sungguh, apa yang sedang dilakukan oleh PSSI saat ini, tujuannya jelas untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa. PSSI yang dilahirkan 19 April 1930 untuk perjuangan, saatnya kini memetik hasilnya.
Kita berharap saatnya prestasi Merah-Putih sungguh-sungguh bisa kita banggakan. Kita berharap Merah-Putih dan Indonesia Raya dinyanyikan sesaat timnas kita akan berlaga di Piala Dunia.
Meski demikian, tak sedikit pun rasa hormat dan persahabatan saya pada Oom Liong Ho, satu-satunya saksi hidup sejak timas Olimpiade Merlbourne, 1956, Alm. Mas Gareng, Oom Sinyo Aliandu, Risdianto, Ronny Pati, Rully Neere, Bambang Nurdiansyah, Dede Sulaiman, Syamsul Arifin, Herry Kiswanto, Patar Tambunan, Hermansyah, serta seluruh mantan skuad tim nasional kita, berkurang. Kekaguman dan rasa bangga saya tetap tinggi pada mereka semua.
Begitu juga untuk FH Hutasoit, seorang pegawai Pemerintah DKI Jakarta, yang tak kenal lelah untuk membina di klub Jayakarta. Hutasoit merupakan tokoh yang hidupnya jauh lebih banyak di lapangan ketimbang di belakang meja sebagai pejabat.
Bagaimana pun juga, mereka telah berjuang dan telah mengabdikan diri untuk bangsa dan negara. Bukan sekadar cuap-cuap mencari kontroversi.
Demikian pula, saya tetap berterima kasih pada mantan para ketua umum serta pengurus PSSI dari zaman ke zaman. Mereka sudah berjibaku dengan niat yang luar biasa.
Tentu, rasa hormat yang tinggi saya haturkan untuk mantan Ketum Iwan Bule yang mengawali semua perjalanan ini.
Terpenting, terima kasih yang tak terhingga untuk Ketum Erick Thohir, Waketum Zainudin Amali, Ratu Tisha, serta seluruh esko PSSI dan Sekjen yang telah membawa PSSI ke jalur yang mendekati kebenaran.
Artikel Terkait
Mengungkap Science dan Rahasia Teknologi Baterai di F1
Hasil Piala Asia U-23 2024: Timnas U-23 Indonesia Kalahkan Australia, Asa Lolos Fase Grup Masih Ada
Kunci Kemenangan Timnas U-23 Indonesia Atas Australia Kata Ernando Ari
Tony Vidmar: Australia Frustrasi Dipermalukan Timnas U-23 Indonesia