Proses kemenangan yang dicapai atas Korea membuktikan level permainan kita tidak kalah. Bahkan secara statitika Timnas U-23 Indonesia lebih unggul dibanding Korea yang sejauh ini menjadi Raja Asia.
Permainan Indonesia merupakan kejutan bagi lawan. Australia tidak percaya jika mereka tunduk dari Indonesia 0-1. Yordania lebih tragis, dihancurkan permainan timnas U-23 Indonesia dengan skor fantastik: 1-4.
Terakhir, Jumat dini hari, Timnas U-23 Indonesia menembus babak semifinal setelah menyingkirkan Korea Selatan.
Baca Juga: Siap-siap, Pelatih Shin Tae-yong Bakal Diguyur Hadiah dan Bonus
Timnas U-23 Indonesia bagai buku baru bagi tim lawan. Harus dipelajari dan dicermati betul. Perlu dibaca baik-baik untuk dapat menangkap taktik permainan.
Pelatih Shin Tae-yong fasih melakukan mind-game untuk lawannya. Di dua kemenangan di penyisihan grup, gol kemenangan Indonesia dicetak oleh pemain sayap, Marselino Ferdinan dan Witan Sulaiman serta bek Komang Teguh.
Penyerang Rafael Struick belum menunjukkan tajinya. Bagi Korea, Struick barangkali dianggap tidak berbahaya lantaran belum mencetak gol.
Mereka lebih mewaspadai Witan dan Marselino serta lemparan ke dalam Arhan. Tetapi dalam pertandingan Jumat dini hari, Struick menjadi kejutan yang mematikan bagi Korea Selatan.
ua kali ia menjebol gawang Korea Selatan. Gol pertama adalah skill istimewa dari seorang penyerang untuk melepaskan tembakan demikian. Gol kedua adalah skill seorang pemain 10 untuk melewati lawan sebelum menghunjamkan tembakan ke gawang Korea Selatan.
Sepertinya halaman buku Timnas U-23 tentang Struick belum dibaca atau malah dilewati oleh Korea Selatan. Akibatnya, Struick berkali-kali mendapat peluang dan mampu melepaskan tembakan.
Baca Juga: Arsenal dan Adidas Ungkapkan Kaus No More Red
Struick memainkan peran sebagai false nine seperti David Villa, bermain di tengah kotak penalti lawan, di sisi pertahanan lawan kemudian mendapatkan ruang tembak.
Jangan dilupakan assist Nathan Tjoe A-On untuk gol kedua Struick. Jika diasah terus, Nathan dapat memainkan peran sebagai deep-lying assist player.
Nathan akan mengirimkan umpan daerah atau lambung langsung pada penyerang atau pemain lain untuk langsung dapat ruang tembak ke gawang. Jika terus dikembangkan dapat saja Nathan memainkan peran sebagai deep lying playmaker seperti Andrea Pirlo di timnas Italia.
Artikel Terkait
4 Jurus Maut Shin Tae-yong Taklukkan Korea
Kejutan, Legenda Brasil Romario Kembali Merumput
Semifinal Piala Asia U-23 Adalah Bonus Untuk Kita...
Godaan Audi Terlalu Bagus untuk Ditolak Hulkenberg