SportlinkNews - Sulit dilukiskan dengan kata-kata. Raksasa sepak bola Asia, Korea, tumbang ditangan tim debutan Piala Asia U-23: Timnas U-23 Indonesia.
Apa yang terjadi di Stadion Abudllah bin Khalifa, Doha, Jumat (26/4) dini hari lebih dari sebuah Drama Korea (Drakor) yang membumi di Indonesia.
Timnas U-23 Indonesia bermain militan dan spartan. Penuh enerjik, taktis, dan menguras energi. Bahkan emosi yang mendidih. Semua mata Nusantara memandangnya.
Baca Juga: Disingkirkan Timnas U-23 Indonesia, Pelatih Korea Selatan Langsung Dicap Pengkhianat
Rizky Ridho dan kawan-kawan harus bermain selama 120 menit permainan. Laga perempat final bikin masyarakat Indonesia deg-degan. Bikin jantung berdebar kencang tidak biasanya.
Hasil imbang 2-2 dalam waktu normal, diteruskan dengan perpanjangan waktu, tidaklah cukup. Pertandingan pun dilanjutkan dengan tos-tosan.
Drama adu penalti pun tidak cukup dengan lima eksekutor. Kedua kiper pun saling berhadapan ikut menjadi eksekutor.
Cukup?
Belum. Ramadan Sananta dan Pratama Arhan masing-masing dua kali menghadapi bola di titik putih. Penyelamatan kiper Ernando Ari menggelorakan bumi. Sebelum Pratama Arhan memastikan kemenangan Timnas U-23 Indonesia dengan skor 11-10.
"Capek...? tanya Erick Thohir, Ketua Umum PSSI di ruang ganti pemain usai pertandingan, dijawab serempak oleh para pemain: tidak.
"Satu kali lagi..." sambung Erick Thohir. Para pemain pun menjawab dua kali...
Dua kali dalam arti mereka ingin tampil sebagai juara. Itu menandakan betapa kuatnya tekad mereka. Betapa besarnya perjuangan mereka. Ya, dua langkah lagi Timnas U-23 Indonesia bisa juara jika memenangkan kedua pertandingan: semifinal dan final.
Jika melihat permainan, taktik, startegi, dan mental pemain di lapangan, bukan mustahil impian Garuda Muda bisa terwujud.