Para peserta menyaksikan tim mereka meraih kemenangan besar melawan rival berat mereka serta kekalahan telak melawan rival tersebut – yang oleh para pakar disebut 'kekalahan telak'.
Selagi para peserta mengamati, para peneliti menggunakan MRI fungsional (fMRI), sebuah teknik pencitraan yang mengukur aktivitas otak dengan mendeteksi perubahan aliran darah.
Tim juga menilai tingkat 'fanatisme' sepak bola mereka – termasuk 'kecenderungan kekerasan' dan 'rasa memiliki' – dengan meminta mereka mengisi kuesioner kepribadian berisi 13 pertanyaan.
Baca Juga: Skenario Gila bagi Indonesia untuk Lolos Setelah Kemenangan Bersejarah di Piala Dunia U-17
Hasil fMRI menunjukkan bahwa aktivitas otak berubah drastis 'dalam hitungan detik' ketika tim penggemar tersebut berhasil atau gagal.
Ketika tim seseorang menang, sistem penghargaan di otak – yang bertanggung jawab untuk menciptakan perasaan senang dan motivasi – diaktifkan.
Ketika para ilmuwan mengatakan suatu bagian otak diaktifkan, itu berarti sel-sel saraf di wilayah tersebut bekerja lebih keras dan oleh karena itu membutuhkan lebih banyak aliran darah, yang mengakibatkan pelepasan neurotransmiter seperti dopamin dan asetilkolin.
Sementara itu, ketika tim seseorang kalah, 'jaringan mentalisasi' – serangkaian wilayah otak terkoordinasi lainnya – dapat diaktifkan, menurut Dr. Zamorano.
Baca Juga: Rencana Transfer Liverpool yang Luar Biasa Senilai Rp 8 Triliun
Jaringan mentalisasi mendukung kemampuan untuk memikirkan kondisi mental diri sendiri dan orang lain, sehingga aktivasi jaringan ini dapat membawa penggemar ke 'kondisi introspektif' yang dapat mengurangi rasa sakit akibat kekalahan.
Tidak mengherankan, aktivasi yang lebih tinggi di wilayah sistem penghargaan otak terjadi ketika tim peserta mencetak gol melawan rival, alih-alih melawan non-rival.
Hal ini menunjukkan bahwa otak akan memberi penghargaan kepada penggemar Liverpool, misalnya, dengan zat kimia yang lebih menyenangkan jika mereka mencetak gol melawan Everton atau Manchester United dibandingkan dengan Sunderland atau Luton Town.
Para peneliti menemukan efek ini paling kuat pada partisipan yang sangat fanatik, yang mungkin tampak sangat rasional hingga momen-momen dramatis membuat mereka 'tiba-tiba berubah pikiran'.
Baca Juga: PBSI Bidik Hasil Optimal di Kumamoto Masters dan Australia Open 2025
Yang paling mengkhawatirkan, studi ini menemukan bahwa mekanisme yang mengatur kontrol kognitif mungkin terhambat saat terjadi kekalahan, yang dapat membahayakan orang-orang di sekitarnya.
Saat mengalami kekalahan, terjadi penghambatan pada pusat otak yang menghubungkan sistem limbik (yang bertanggung jawab atas emosi dasar seperti senang dan marah) dengan korteks frontal (yang dikenal untuk fungsi-fungsi tingkat tinggi seperti pengambilan keputusan, pemecahan masalah, dan pengaturan emosi).
Artikel Terkait
Ilmu Bulu Tangkis Olimpiade: Mengurai Pukulan Sempurna
Cristiano Ronaldo Membuat Pernyataan Penting Tentang Masa Depannya Menjelang Piala Dunia 2026
Prediksi Pertarungan Dendam Chris Eubank Jr Vs Conor Benn
Nike Air Force 1 Low Bergabung dengan Paket Obsidian
Klasemen Peringkat 3 Terbaik Piala Dunia, Timnas U-17 Indonesia Harus Angkat Koper dalam Skenario Menyakitkan