SportlinkNews - Mengapa ada orang yang langsung kehabisan napas hanya setelah jogging singkat, sementara yang lain bisa berlari seolah tanpa beban? Perbedaan ini tidak hanya dipengaruhi oleh latihan dan kekuatan otot, tetapi juga oleh cara otak memersepsikan usaha saat tubuh bergerak.
Usaha adalah energi yang dikeluarkan tubuh untuk melakukan aktivitas seperti berlari, mengayuh sepeda, atau mengangkat beban. Meski terlihat sebagai proses fisik yang bisa diukur, usaha juga bersifat subjektif dan bisa berbeda pada setiap individu.
Cara seseorang memersepsikan usaha ini berpengaruh langsung pada keterlibatan dalam aktivitas fisik dan performa olahraga. Ketika olahraga terasa terlalu berat, orang cenderung menghindarinya. Sebaliknya, jika terasa lebih ringan, aktivitas fisik menjadi lebih menyenangkan dan memicu motivasi untuk terus melakukannya.
Baca Juga: Sadar Peta Persaingan Asia, Timnas Futsal Indonesia Pilih Pendekatan Realistis
Lalu, bagaimana jika persepsi terhadap usaha bisa dikurangi sehingga orang tidak lagi merasa olahraga itu terlalu berat?
Pertanyaan tersebut menjadi fokus penelitian internasional yang dipimpin Benjamin Pageaux, profesor di School of Kinesiology and Physical Activity Sciences Université de Montréal, bersama tiga peneliti dari Universite Savoie Mont Blanc, Prancis.
Dalam sebuah studi yang dipublikasikan di Journal of Sport and Health Science, tim peneliti menguji apakah getaran pada tendon yang diberikan melalui alat bergetar yang dipasang di tubuh dapat menurunkan persepsi usaha saat bersepeda.
Baca Juga: Michael Carrick dan Jebakan Solskjær di Old Trafford
Penelitian ini melibatkan para relawan yang mengayuh sepeda statis di laboratorium. Setiap peserta menjalani dua kondisi uji, yakni dengan dan tanpa getaran tendon sebelum bersepeda.
Pada kondisi dengan getaran, alat yang dipasang di tendon Achilles dan lutut diaktifkan selama 10 menit sebelum peserta mulai mengayuh sepeda.
Selanjutnya, peserta diminta bersepeda selama tiga menit dengan intensitas yang mereka rasakan sebagai sedang hingga berat, sambil menyesuaikan kayuhan agar sesuai dengan tingkat intensitas yang ditentukan.
Hasilnya cukup jelas. Setelah mendapatkan getaran tendon, peserta menunjukkan output daya dan detak jantung yang lebih tinggi dibandingkan saat tanpa getaran. Artinya, mereka bekerja lebih keras, meski persepsi terhadap tingkat usaha tetap sama.
Para peneliti juga tertarik mengungkap mekanisme neurofisiologis di balik efek getaran tendon terhadap persepsi usaha. Meski mekanismenya belum sepenuhnya diketahui, Pageaux mengajukan beberapa hipotesis.
Artikel Terkait
Kekuatan Ilmu Olahraga dan Latihan dalam Membentuk Atlet Profesional
Tak Perlu Olahraga Berat, Aktivitas Sehari-hari Bisa Jadi Kunci Hidup Sehat
Valuasi Tim Olahraga Profesional AS Pecahkan Rekor, Tren Naik Terus di 2026
Olahraga Rutin Bisa Bikin Otak Lebih Muda
Typti, Olahraga Baru Gabungkan Tenis dan Pickleball