SportlinkNews - Rekor valuasi tertinggi dalam penjualan kendali tim olahraga profesional pecah dua kali pada 2025. Pertama, saat Boston Celtics dijual dengan valuasi awal US$6,1 miliar (Rp91,5 triliun), lalu tiga bulan kemudian Los Angeles Lakers terjual dengan valuasi US$10 miliar (Rp150 triliun).
Jika melihat transaksi kepemilikan minoritas, New York Giants melampaui Rp150 triliun dengan penjualan sebagian saham ke keluarga Koch pada September. Faktor yang membuat tim olahraga profesional AS tetap menjadi investasi menarik masih sama: jumlah tim yang terbatas, kepastian hak media, dan semakin banyaknya calon investor.
Tren ini diperkirakan akan membuat valuasi tim semakin tinggi sepanjang 2026. Dampaknya, grup investor makin besar, transaksi kepemilikan minoritas meningkat, dan penjualan multi-tahap makin umum. Saat ini, hampir semua franchise profesional menjadi aset bernilai tinggi yang bisa dimonetisasi melalui penjualan saham minoritas.
Baca Juga: Dari Detroit, Red Bull Buka Selubung Mobil Barunya untuk Musim Balap F1 2026
Empat liga olahraga profesional pria terbesar di Amerika Utara, NBA, NFL, MLB, dan NHL, telah menunjukkan kinerja luar biasa dibanding kelas aset lain dalam dua dekade terakhir, dengan pengembalian tahunan rata-rata 13,2%, menurut Ross-Arctos Sports Franchise Index, hasil kolaborasi Arctos Partners dan Michigan Ross School of Business. Tahun lalu, pengembalian mencapai 16,9%, mengungguli hampir semua aset lain, kecuali media dan hiburan.
Dave Dase, co-head global divisi olahraga Goldman Sachs, menyebut tata kelola liga yang lebih matang, seperti aturan kepemilikan jelas dan pembagian pendapatan antar-franchise, menjadi salah satu faktor valuasi tinggi di olahraga profesional Amerika Utara.
“Itu sebenarnya menjadi pendorong utama dalam beberapa valuasi ini,” kata Dase dalam Front Office Sports Asset Class Summit di New York, Oktober lalu. Ia menambahkan, investor “tahu apa yang mereka beli karena ada model bisnis yang jelas.”
Baca Juga: Persik Kediri Gaet Chechu Meneses dari Malut United Jelang Super League Putaran Kedua
Lebih dari setengah tim NBA dan NFL pernah mempertimbangkan penjualan saham minoritas dalam beberapa tahun terakhir, menurut sumber perbankan investasi kepada FOS.
“Ada pemilik yang punya 100% saham berkata, ‘Bisa nggak jual 10% tanpa kehilangan kontrol dan hak?’ Bahkan Robert Kraft dan Giants melakukannya. Pemilik-pemilik ini bertanya, ‘Kenapa tidak saya lakukan?’” ujarnya.
NBA dan NFL menjadi pemimpin pasar. Pada 2025, tiga tim NBA diumumkan terjual, Celtics, Lakers, dan Trail Blazers, semuanya dengan valuasi di atas US$4 miliar (Rp60 triliun), sesuatu yang hampir mustahil satu dekade lalu.
Baca Juga: Arema FC Tambah Tenaga Baru untuk Memperkuat Skuat Jelang Putaran Kedua Super League 2025/26
Transaksi Clippers senilai US$2 miliar (Rp30 triliun) oleh Steve Ballmer pada 2014 memicu lonjakan pasar, jauh melebihi penjualan Bucks senilai US$550 juta (Rp8,25 triliun) pada 2012. Valuasi terus naik, didorong oleh kesepakatan hak media senilai US$77 miliar (Rp1.155) triliun musim ini dan jumlah tim yang terbatas (NBA hanya punya 30 tim, meski liga akan mempertimbangkan penambahan dua tim pada 2026).
Penjualan Minnesota Timberwolves senilai US$1,5 miliar (Rp22,5 triliun), yang selesai Juni 2025 setelah sengketa panjang, menunjukkan tingginya taruhan. Pemilik lama Glen Taylor, yang membeli Timberwolves seharga US$88 juta (Rp1,32 triliun) pada 1994, sempat menentang kesepakatannya dengan alasan pembayaran pembeli Alex Rodriguez dan Marc Lore terlambat. Namun, keduanya menilai Taylor, 84 tahun, mengalami “penyesalan penjual” setelah Phoenix Suns dijual US$4 miliar (Rp60 triliun) pada 2022. Transaksi selesai setelah mediasi dan arbitrase.
Artikel Terkait
IBL Jalani Valuasi Klub Demi Mengukur Perkembangan Industri Olahraga Basket
Keputusan Inter Tentang Lookman Bergantung pada Valuasi Atalanta
Zak Brown Umumkan Penjualan Saham McLaren Racing Telah Rampung dengan Valuasi $4,1 Miliar