Sport science bertujuan untuk mewujudkan program latihan yang sempurna sehingga atlet diharapkan bisa terus fit dan jauh dari cedera. Karena itulah, sport science penting dilakukan dalam cabang olahraga apa pun.
Khusus di cabang bulutangkis, Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) telah memetakan sport science dalam empat komponen. BWF ingin memastikan bahwa bulutangkis menjadi olahraga yang aman untuk para atletnya.
“BWF menyadari bahwa sport science memainkan peran penting dalam mengembangkan dan mempromosikan olahraga melalui penelitian terkait bulu tangkis,” bunyi pernyataan BWF di laman resminya.
Gemilangnya Jonatan Christie dan Anthony Sinisuka Ginting yang memuncaki tunggal putra All England 2024 bukan sekadar penantian panjang tiga dekade. Tapi, juga membuktikan bahwa sport science di Pelatnas Cipayung berjalan cukup efektif.
Moh Nanang H Kusuma, Tim Analis Performa Tim Olimpiade PBSI, menyampaikan, pelibatan sport science dan tim analis performa itu penting. Tim itu bertugas menganalisis kelemahan atlet, menyusun program latihan, kemudian memberikan pendampingan kepada pelatih.
”Pelatih harus didampingi banyak ahli untuk membuat program latihan itu,” kata Nanang.
Disamping itu juga ada tim psikologi dibawah tim Ad Hoc Paris 2024. Lilik Sudarwati, salah satu anggota dari tim psikologi yang ikut mendampingi tim bulutangkis Indonesia selama tampil di All England 2024.
Menurut Nanang, latihan hanya berdasarkan pengalaman (konvensional) tentu bagus sebagai pintu masuk, tetapi jika dikembangkan dengan kombinasi penggunaan science yang terus berkembang, tentu hasilnya akan lebih tertata, terencana, dan terukur.
”Khusus tunggal putra, saya intens bersama coach Irwansyah, setiap hari berdiskusi mengombinasikan pengalaman coach Irwansyah dengan pengetahuan science dari saya,” katanya.
Nanang mengatakan, ia bersama coach Irwansyah, mulai dari identifikasi kelemahan Jojo dan Ginting, kemudian membuat latihan yang spesifik untuk masing-masing ( taylor made).
"Terakhir menggunakan video analysis untuk mengetahui kelemahan calon lawan yang akan dihadapi. Setiap malam dibantu oleh tim tagging video, menggunakan lebih dari dua video calon lawan yang akan dihadapi, bersama coach Irwansyah kami mengidentifikasi kelemahan ( unforced error) lawan untuk mengatur strategi bermain nanti,” ujarnya.
Lebih lanjut dikatakan ketika Gintung menaklukkan peringkat 1 dunia Axelsen, tim sport science Indonesia menggunakan analisis biomekanika, yaitu prinsip tuas/pengungkit.
”Dengan batang tubuh panjang yang dimiliki Axelsen dibandingkan dengan Ginting, kita temukan kelemahannya sehingga kita sarankan Ginting untuk melakukan strategi serangan berdasarkan kelemahan Axelsen,” ujar Nanang yang juga dosen Ilmu Keolahragaan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto.
Artikel Terkait
Semua Tentang Budaya Olahraga di Korea, Tertua Cabor Taekwondo Sejak Abad 1 SM
Jihyo TWICE Berkencan dengan Atlet Olimpiade Yun Sung Bin
Live RCTI Vietnam vs Timnas Indonesia, Shin Tae-yong Bicara Strategi
Sambil Ucap Insya Allah, Ragnar Oratmangoen Ingin Segera Debut di Timnas Indonesia