SportlinkNews - Tinju disebut sains manis karena suatu alasan. Ada lebih banyak hal di dalamnya daripada yang terlihat.
Tinju bukan hanya tentang kekerasan. Secara teknis, tinju bukanlah olahraga beladiri meskipun sering diklasifikasikan demikian.
Tinju jauh lebih dari sekadar bertarung. Beberapa orang merasa bahwa tinju adalah olahraga yang paling menuntut secara fisik.
Siapa pun yang berlatih menjadi petinju tahu mengapa demikian. Dibutuhkan latihan bertahun-tahun untuk menyempurnakan setiap pukulan dan teknik.
Juga dibutuhkan pengondisian yang tak terbatas untuk membangun daya tahan yang dibutuhkan. Tinju bersifat ilmiah dalam banyak hal.
Pertama, aspek ilmu latihannya sangat penting. Kedua, aspek psikologisnya cukup ilmiah. Ketiga, aspek teknis tinju sangat kompleks dan sering dianggap sebagai ilmu tersendiri.
Di saat yang sama, tinju juga memiliki unsur artistik. Bahkan petinju yang paling sempurna secara teknis dan fisik pun perlu memiliki gaya. Lagipula, tinju adalah hiburan.
Baca Juga: Atlet, Waspadalah! 5 Makanan Sehat Tidak Seperti yang Terlihat
Mengapa tinju disebut "sains manis"? Mungkin karena butuh bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun, untuk menguasai setiap gerakan.
Tinju bukan hanya tentang memukul. Petinju menggunakan kinetic linking untuk memukul dengan keras.
Artinya, mereka tidak hanya memukul dengan lengan. Mereka memukul dengan seluruh tubuh mereka menggunakan:
Baca Juga: Pencetak Gol Terbanyak Serie A Resmi Dijual, Klub Arab Saudi Rogoh Rp 1,1 Triliun
1. Gaya reaksi tanah dari kaki untuk mendorong.
2. Gaya rotasi dari badan.
3. Kecepatan pukulan lengan.